Proses kreatif Shella terpantik ketika dia melihat beberapa referensi gambar, baik berupa bentuk maupun warna, lalu dia menuangkannya lewat rajutan. Butuh kecermatan untuk mempelajari pola rajutan pada gambar yang menjadi referensinya tersebut. Preferensinya pada noken dalam karya kriyanya, patut diapresiasi. Sejumlah rupa noken diaplikasikan Shella dalam karyanya, seperti pada tas rajut yang diberi judul “Satu Semburan”, “Cheerful”, “Makassar”, “Kue Lapis Pelangi”, “Senja Kaimana”, “Culture”, “Pesisir”, “Noken Kelelawar Wamena”, dan “Bird of Paradise 1” serta “Bird of Paradise 2”.
Sebagai perupa, dalam proses kreatifnya untuk menghasilkan karya, Shella biasa terkendala pada ketersediaan bahan yang dipunya. Artinya, ide dan keinginan untuk berkarya saja, rasa-rasanya tak cukup bagi seorang Shella. Bila jenis benang dan stok warna benangnya dia tidak punya, maka praktis dia tidak bisa berkarya. Itu menjadi tantangan yang dia alami selama menekuni kriya rajut ini. Tantangan berat lainnya, menurut pengakuannya, yakni bagaimana dia memadukan warna yang selaras dalam kriya rajutnya. Dia menyadari bahwa dirinya masih pemula, sehingga perlu terus berproses untuk melahirkan karya-karya terbaik. (*)












