Dalam konteks buku karya Andi Arung Mattugengkeng, berjudul “Merekam Jejak Tradisi Kapal Pinisi” (2025), memang penulis tidak membahas secara spesifik terkait promosi pariwisata. Namun, mengingat kapal Pinisi merupakan ikon dari Kabupaten Bulukumba, dan Sulawesi Selatan pada umumnya, maka sulit dihindari bahwa bahasan dalam buku ini juga punya dampak ikutan terhadap promosi kepariwisataan daerah ini.
Buku yang ditulis oleh alumni Progran Studi Desain Komunikasi Visual (DKV), Fakultas Seni dan Desain (FSD) Universitas Negeri Makassar (UNM), patut diapresiasi karena mengulas Perancangan Video Profil Proses Pembuatan Kapal Pinisi (Desa Tana Beru) untuk Memperkenalkan Budaya Lokal Masyarakat Bulukumba.
Pengetahuan tentang pembuatan kapal Pinisi perlu didokumentasikan secara baik. Sebab, telah diakui oleh badan PBB untuk pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan, UNESCO, sebagai Warisan Budaya Tak Benda (Intangible Cultural Heritage), pada 7 Desember 2017.
Pengakuan ini seolah mengukuhkan cerita-cerita nenek moyang kita sebagai pelaut ulung yang tak gentar mengarungi samudra luas. Sebagai negara maritim, kita sangat kaya dengan mitos dan legenda. Termasuk kisah kapal Pinisi yang juga disebutkan dalam epos La Galigo, karya sastra terpanjang di dunia dengan sekira 300.000 bait atau baris teks, terbagi dalam 12 jilid atau sekira 6.000 halaman.
Dalam legenda itu disebutkan bahwa Sawerigading, yang merupakan putra mahkota Kerajaan Luwu, berangkat ke Cina untuk menemui We Cudai dengan kapal Pinisi yang terbuat dari kayu welengreng (pohon dewata).
Namun, dalam perjalanannya, kapal itu pecah dan terdampar di beberapa tempat, yakni Ara, Lemo-Lemo, dan Tana Beru. Kisah ini sendiri sudah punya daya tarik, yang bisa dikreasikan secara imajinatif sebagai tontonan yang edukatif, tinggal bagaimana kemasan visualnya.
Secara visual, kapal Pinisi dengan dua tiang layar besar di bagian depan dan belakang, serta tujuh layar yang mengembang, akan terlihat gagah ketika berlayar dengan ombak yang memecah di bagian lambungnya. Namun, sebelum itu, kapal Pinisi menjalani serangkaian prosesi yang kental dengan tradisi, filosofi, dan budaya masyarakat setempat.
Upacara dan ritual adat bahkan sudah dilakukan sejak penanaman pohon bitti, yakni pohon kayu yang dipakai sebagai bahan baku pembuatan kapal. Selain itu, ada pula ritual songkabala (tanda dimulainya pembuatan kapal, untuk meminta restu alam semesta), annyorong lopi (peluncuran kapal), appasili (doa untuk keselamatan berlayar) ammossi (upacara pemberian pusat pada lunas), dan upacara maccera lopi (menyucikan kapal).
Tidak heran bila Bulukumba dijuluki sebagai “Butta Panrita Lopi” atau “Bumi Panrita Lopi”, yang berarti negeri atau tanah para ahli pembuat perahu. Julukan ini tentu saja disematkan atas kepiawaian masyarakat di sana dalam hal pembuatan kapal Pinisi.
Julukan ini selaras dengan motto atau slogan Kabupaten Bulukumba, yakni “Bulukumba Berlayar”. Sebuah slogan yang menunjukkan karakter geografis, sosio-kultural dan spirit yang berakar pada sejarah dan pengakuan terhadap daerah ini sebagai tempat muasal pembuatan kapal Pinisi yang legendaris itu.
Kapal Pinisi telah membuktikan ketangguhannya dalam pelayaran “Pinisi Nusantara” ke Vancouver, Kanada, sejauh 11.000 mil. Pelayaran pada tahun 1986 itu, salah satunya untuk promosi budaya Indonesia. Pelayaran kapal Pinisi “Amanna Gappa” ke Madagaskar, yang dilepas dari Pantai Losari, Makassar, tepat pada 17 Agustus 1991, sebagai pelayaran napak tilas, juga membuktikan betapa Pinisi digdaya di lautan luas.












