Selain kelebihan STY yang sudah mengenal watak pemain Indonesia selama empat tahun terakhir, juga yang menjadi kendala adalah persoalan komunikasi antara pemain dengan pelatih. STY yang berkomunikasi dalam bahasa Korea, sama sekali tidak paham bahasa Inggris apalagi bahasa Indonesia, harus menggunakan penerjemah untuk mengomunikasikan strategi dan taktiknya kepada pemain. Penggunaan penerjemah hanya dapat mengalihbahasakan pesan STY secara verbal, akan tetapi secara nonverbal tidak akan pernah maksimal.
Persoalannya, bahasa tubuh berkaitan dengan strategi dan taktik ada pada pelatih, bukan pada penerjemahnya.
Persoalan komunikasi ini selalu membuat kita bertanya-tanya, bagaimana STY dapat mengomunikasikan semua yang hendak dilakukannya terhadap para pemain tanpa bahasanya dipahami pemain. Komunikasi nonverbal yang dilakukannya di luar lapangan, juga tidak maksimal karena hanya merupakan gerak tubuh tanpa verbalisme.
Asa pelatih baru
Meskipun Ketua Umum PSSI Erick Thohir baru akan mengumumkan nama pelatih baru tersebut 12 Januari 2025, namun sudah ada nama yang bocor ke media. Nama Patrick Kluivert, salah seorang pemain Belanda yang lahir 1 Juli 1976 digadang-gadang akan menggantikan kursi yang ditinggalkan STY. Nama Kluivert tidak asing bagi maniak bola Indonesia karena pemain dengan posisi sebagai penyerang ini dikenal luas saat membela Ajax, Barcelona, dan tim nasional Belanda.
Mantan pemain Belanda dengan tinggi 1,93cm ini selama kariernya sejak 1994 hingga 2008 telah mencetak 149 gol. Gol yang paling subur diciptakannya ketika membela Barcelona (1998-2004), dalam 182 kali penampilannya dia menggetarkan jala lawan 90 kali. Panen gol justru kurang subur saat dia membela klubnya, Ajax (1994-1997) karena dari 70 kali penampilannya dia hanya mencetak 39 gol. Bersama tim nasional Belanda, Kluivert (1994-2004) dalam 79 kali penampilannya mencetak 40 gol.
Sebagai pelatih, Kluivert pernah sebagai asisten menukani AZ Alkmaar (2008-2010), Brisbane Roar, klub Divisi Utama Australia (2010), dan NEC (2010-2011). Menjadi pelatih Jong Twente (2011-2012),Tim Belanda (asisten, 2012-2014), Curacao (2015-2016), Pemuda Ajax (2016), Asisten Pelatih Kamerun (2018-2019), pelatih sementara Curacao (2021), dan Adana Demirspor (2023).
Kluivert yang merupakan generasi emas dengan Ajax pada dekade 1990-an. Dalam usia 18 tahun, dia menyumbangkan gol semata wayang bagi kemenangan Ajak pada final Liga Champions UEFA 1995.
Melihat posisinya sebagai penyerang, sudah dapat ditebak, pelatih asal Negeri Kincir Angin ini akan mengasah tajam pemain lini depan Indonesia dalam menghadapi pertandingan sisa Grup C Piala Dunia. Soal komunikasi, Kluivert yang tentu saja paham menggunakan bahasa Inggris jelas akan mudah berkomunikasi dengan para pemain. Apalagi banyak pemain naturalisasi timnas Indonesia berasal dari klub-klub Eropa. Dengan sedikit teratasinya kendala bahasa dalam komunikasi ini, kita harapkan para pemain akan lebih paham dalam menjabarkan strategi dan taktik Kluivert di lapangan.
Kluivert kabarnya tidak datang sendiri menukangi tim nasional Indonesia, tetapi disertai dua asisten pelatih, yakni Alex Pastor (58) yang pernah melatih beberapa klub di Eropa. Nama kedua, Denny Landazart (48) yang masih punya hubungan emosional dengan Indonesia melalui ibunya yang berasal dari Maluku. Dia pada tahun 2013 pernah melamar menjadi pelatih Sriwijaya FC, namun klub asal Kota Palembang itu tidak memberikan respon.
Kabarnya juga ‘meneer’ Louis van Gaal, pun akan mendampingi Patrick Kluivert ke Indonesia. Mantan pemain dan manajer kelahiran 8 Agustus 1951 bukan nama yang asing di lapangan hijau. Pelatih gaek ini konon kabarnya akan menempati posisi sebagai Direktur Teknik PSSI. Rekam jejaknya kaya, pernah sebagai manajer Ajax, Barcelona, AZ Alkmaar, Bayern Munich dan Manchester United dan sebagai pemain gelandang pada klub Royal Antwerp, Telstar, Sparta Rottedam, Ajax dan AZ Alkmaar.












