Tim Program PARKIR Rasakan Suasana Ramadan di Pulau Barrang Lompo Makassar, Makan Sate Teripang

Apa boleh buat, kami berbuka puasa dalam suasana gelap, hanya diterangi nyala lilin dan senter dari telepon genggam.

Terlepas dari itu, momen merasakan puasa di pulau ini terasa istimewa dengan menu yang disediakan tuan rumah. Selain kurma dan es buah, juga disediakan cumi, ikan goreng, dan sate teripang.

“Ini menu buka puasa yang mahal. Kerena khas, ada sate teripang Gondrong,” kata Daeng Maliq.

Harga teripang Gondrong atau sering pula disebut teripang Duri/Gamat kering, berkisar antara Rp1,9 juta hingga Rp3,5 juta per kilogram. Harganya tergantung ukuran, ketebalan, dan kualitas keringnya.

Teripang Gondrong termasuk jenis teripang premium. Harga ecerannya per 100 gram, antara Rp190.000-Rp700.000.

Hampir semua dari kami memuji ikan goreng yang dimasak Daeng Dadi. Teman-teman berkomentar bahwa ikannya gurih, pas dengan sambal yang pedas tetapi nagih.

Mendengar pujian kami, Daeng Dadi merendah. Dalam logat Makassar, ia berkata, “Hanya asam dengan garam ji, saya pakaikan ki.”

Saya menyempatkan sholat Magrib berjamaah di masjid, dan melihat warga buka bersama di teras masjid.

BACA JUGA:  Nasrul, Kamus Asal, dan Logo-Logo Berkonsep Aksara Lontaraq

Di Barrang Lompo, terdapat dua masjid, yakni Masjid Nurul Yaqin dan Masjid Nurul Mustaqim.

Daeng Dadi menyampaikan, mereka dibuatkan jadwal untuk sediakan pakbuka. Sehari, 20 keluarga mengantar menu takjil ke masjid. Jadi, satu keluarga mendapat dua kali giliran ke masjid berbeda.

Saya melihat, di depan masjid ada beberapa pedagang berjualan. Ini fenomena lazim selama bulan Ramadan. Para pedagang ini kebanyakan menyasar anak-anak yang ke masjid untuk sholat Isya dan tarwih.

“Banyak orang duduk kumpul-kumpul, saya kira apa, ternyata nontongi gerhana bulan,” kata Daeng Dadi, yang sempat keluar dari rumahnya.

Ketika pulang ke penginapan, saya mendongakkan kepala ke langit, dan masih sempat menyaksikan bulan yang tampak kemerahan (Blood Moon).

Di Barrang Lompo, pandangan saya terasa luas ke cakrawala, tidak terhalang bangunan dan gedung-gedung. Malam itu begita indah dengan taburan bintang di langit.

Di laut, kapal-kapal berlabuh. Sementara di dermaga, beberapa warga asyik memancing cumi-cumi.

Ketika waktunya sahur, usi Luna membangunkan kami. Kembali kami ngumpul makan bersama menu seafood andalan: cumi-cumi dan ikan goreng made in Daeng Dadi.

BACA JUGA:  Seminar Pilkada Serentak PWI Pusat: Anjlok, Indeks Demokrasi Indonesia Tahun 2023

Di Barrang Lompo, saya memaknai definisi hidup bahwa bahagia itu sederhana. (*)