Tim Program PARKIR Rasakan Suasana Ramadan di Pulau Barrang Lompo Makassar, Makan Sate Teripang

Pulau Barrang Lompo memiliki luas sekira 20,58 hektar.

Warga suka berkeliling pulaunya dengan ojek bentor. Moda transportasi ini lebih sebagai hiburan bagi warga, terutama anak-anak. Tak cukup 2 lagu, sudah selesai satu putaran.

Berdasarkan data profil Kelurahan Barrang Lompo, tercatat ada 4.239 warga atau sebanyak 1.024 keluarga. Laki-laki sebanyak 2.101 orang, lebih sedikit dibanding perempuan yang mencapai 2.138 orang.

Pulau Barrang Lompo bagian dari gugusan Kepulauan Spermonde, yang tersebar di Selat Makassar. Jumlahnya mencapai 120an pulau, termasuk Pulau Barrang Caddi, Samalona, Lanjukang, Samatellu, dan lain-lain.

Barrang Lompo merupakan salah satu pulau terbesar dengan jumlah penduduk terpadat di kawasan ini.

Warga Pulau Barrang Lompo kebanyakan merupakan nelayan tradisional. Aktivitas mencari teripang dengan segala risikonya, menjadi bagian dari kisah hidup mereka.

Mereka mencari teripang ke perairan sekitar Pulau Madura dan Kalimantan. Bahkan sampai ke wilayah timur seperti Maluku, Papua, hingga Laut Arafura.

“Pencari teripang itu berisiko tinggi. Banyak yang mengalami lumpuh, bahkan meninggal dunia, akibat menggunakan kompresor saat menyelam,” kisah Daeng Dadi.

BACA JUGA:  Ngobrol Bareng Dr Liong Rahman, SH., M.Kn: Tukang Reparasi Sepatu Yang Jadi Notaris Populer

Penyelam teripang sering menggunakan kompresor konvensional yang disambungkan ke selang panjang sebagai alat bantu napas mereka.

Metode berbahaya ini memungkinkan mereka menyelam hingga kedalaman lebih 50-an meter selama berjam-jam.

Jenis teripang yang diperdagangkan dan punya nilai ekonomis tinggi, antara lain teripang Dongang, teripang Pasir, dan teripang Gondrong.

Demi bisa memperoleh teripang itulah, mereka mempertaruhkan hidupnya. Miris, karena para penyelam teripang itu tidak punya asuransi kesehatan/jiwa.

Penanganan terhadap mereka juga boleh dibilang kurang responsif, buntut dari minimnya fasilitas dan akses.

*Mati Lampu dan Gerhana Bulan*

Menjelang sore, terdengar pengumuman dari PLN lewat toa masjid. Akan dilakukan pemadaman bergilir.

Dua RW di pulau itu akan mengalami mati lampu secara bergantian. Pembangkit listrik PLN sedang bermasalah.

Mumpung lagi di pulau, saya manfaatkan waktu untuk ngabuburit menikmati sunset. Rupanya, di tempat yang saya datangi, sudah lebih dahulu ada usi Luna, Jonah, dan Amy.

Kami menikmati senja di atas papan-papan yang jadi bagian dari rumah bergaya estetik. Usi Luna bilang, rumah itu milik salah satu warga yang digunakan hanya untuk menikmati angin, bila ia lagi gerah.

BACA JUGA:  Sinergi Urban Farming & Rumah Pangan Kita (RPK)

Setelah itu, kami ke rumah Daeng Dadi untuk menunggu azan Magrib, saat berbuka puasa. Alamak, ternyata rumahnya terkena giliran mati lampu.