Selama ini saya sering mendengar cerita tentang orang-orang kampung yang dikenal kebal, ada yang mampu mengobati, ada pula yang memiliki keberanian luar biasa.
Sebagian orang menertawakan cerita-cerita itu sebagai mitos.
Tetapi bagi saya, mitos sering kali hanyalah ilmu yang belum dipahami dengan bahasa modern.
Saya ingin mengetahui sesuatu yang lebih dalam.
Apa sebenarnya yang diwariskan oleh para orang tua itu?
Kata-kata apa yang mereka gunakan?
Apakah ada struktur logika di baliknya?
Saya ingin menelusurinya.
Siapa tahu dari sana lahir sesuatu yang dapat dikembangkan menjadi pengetahuan baru.
Sepulang dari Gowa, saya langsung menghubungi seorang kakak untuk membooking satu kamar di Swiss-Belinn Panakkukang Makassar. Saya sengaja memilih hotel agar percakapan kami berlangsung tanpa gangguan.
Saya ingin menghadirkan suasana sunyi.
Malam yang benar-benar menjadi ruang pertemuan antara seorang murid dan seorang tua yang hendak menurunkan pengetahuan hidupnya.
Karena sering kali ilmu lahir dari kesunyian.
Perjalanan Menuju Malam Pengetahuan
Malam berikutnya, setelah shalat tarawih, saya melaju dengan kuda besi merah yang setia membawa saya ke mana saja. Di punggung saya ada tas ransel yang hampir selalu menemani perjalanan yakni laptop, mushaf Al-Qur’an, buku bacaan, buku catatan, dan beberapa lembar pakaian ganti.
Gerimis tipis turun sepanjang jalan menuju hotel.
Kota terasa berbeda. Ramadan baru saja dimulai sehari sebelumnya. Lampu-lampu jalan, suara masjid, dan udara malam menghadirkan suasana yang sulit dijelaskan seolah kota sedang belajar menjadi lebih tenang.
Perjalanan malam itu terasa seperti ritual menuju sebuah pertemuan penting.
Sebelum sampai di hotel, saya singgah di swalayan membeli roti dan beberapa makanan ringan, kopi, susu, sari kurma, dan air minum.
Saya membayangkan malam itu akan panjang.
Sesampainya di hotel, saya menuju resepsionis, menunjukkan kode booking, dan menerima kunci kamar di lantai dua.
Begitu masuk kamar, saya mengganti pakaian lalu menata meja kecil dekat ranjang. Dua kursi saya hadapkan saling berhadapan. Buku catatan saya letakkan di atas meja.
Saya ingin siap menjadi murid.
Tidak lama kemudian ponsel saya berkedip. Cucunya memberi kabar bahwa mereka sudah berada di lantai dua tetapi tidak bisa masuk tanpa kartu akses. Saya segera keluar menjemput mereka.
Ketika kami masuk kamar, saya menyiapkan kopi untuk sang tete dan teh untuk saya.
Kami duduk berhadapan.
Tete menatap saya cukup lama.
“Sudah siap menerima ilmu?” tanyanya.
“InsyaAllah, tete.”
Ia tersenyum tipis.












