Teori Energi Kata, Malam Penurunan Ilmu

By : Rahman Rumaday

Ketika Kata Menjadi Kekuatan

NusantaraInsight, Makassar — Satu hari sebelum masuknya bulan suci Ramadan, saya meminta seorang adik di rumah untuk membonceng saya menuju Taeng, Kabupaten Gowa. Perjalanan itu sebenarnya sederhana. Tidak ada agenda besar, tidak pula pertemuan resmi. Saya hanya ingin bersilaturahmi kepada seorang tua yang dalam tradisi Maluku kami panggil tete sebutan penuh hormat untuk seorang kakek.

Ia adalah saudara dari nenek perempuan saya. Kebetulan ia datang ke Makassar untuk menghadiri wisuda cucunya. Usianya mungkin telah melewati delapan puluh tahun. Tubuhnya sudah membungkuk, langkahnya perlahan, tetapi sorot matanya masih menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan ketegasan yang tidak dimakan waktu.

Ada jenis kekuatan tertentu yang tidak bisa diukur oleh usia.

Dalam banyak tradisi kampung, orang-orang tua seperti itu bukan sebatas manusia lanjut usia. Mereka adalah perpustakaan hidup. Pengalaman mereka adalah lembaran-lembaran sejarah yang tidak pernah ditulis dalam buku.

Sebagaimana pernah dikatakan oleh Nurcholish Madjid :
“Tradisi masyarakat sering menyimpan kebijaksanaan yang belum sepenuhnya dijelaskan oleh ilmu modern.”

BACA JUGA:  Sekilas Andi Pasamangi Wawo : TAK GENTAR WALAU PERNAH DIKEROYOK DAN DITIKAM

Setelah hampir setengah jam mencari alamatnya, akhirnya saya menemukannya. Rumah itu sederhana. Kami duduk di ruang tamu kecil yang tidak terlalu luas. Percakapan kami berlangsung hampir dua jam.

Tete banyak bercerita tentang kehidupan masa lalu tentang orang-orang kampung dahulu, tentang keberanian, tentang doa, dan tentang cara manusia menjaga dirinya dalam kehidupan yang tidak selalu ramah.

Petuahnya mengalir perlahan. Tidak seperti orang yang sedang berceramah. Lebih seperti seseorang yang sedang mewariskan ingatan.

Ketika saya hendak pamit karena ada undangan lain yang harus saya hadiri, ia memanggil saya dengan suara yang tenang.

“Nak… lusa tete akan kembali ke Maluku. Kalau kau punya waktu kosong, tete ingin duduk berdua saja denganmu. Tete ingin menurunkan apa yang tete miliki kepadamu.”
Kalimat itu sederhana. Tetapi berat.

Dalam budaya kami, kata “menurunkan ilmu” bukan sebatas mengajarkan sesuatu. Ia berarti mewariskan pengetahuan yang dianggap berharga pengetahuan yang tidak diajarkan kepada sembarang orang.

Saya menjawab pelan.
“Bagaimana kalau besok malam setelah shalat tarawih, tete?”

BACA JUGA:  Konflik Palestina-Israel Akankah Abadi ?

Ia mengangguk.

“Iya nak. Atur saja tempatnya. Tete harus menurunkan ini kepadamu. Kau hidup di tanah orang dan bergaul dengan banyak manusia.”

Saya terdiam sejenak.

Sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua, saya langsung mengiyakan. Namun dalam hati sebenarnya saya sudah bisa menebak arah pembicaraan itu.