Wakil rakyat seharusnya merakyat. Kata itu sederhana, tetapi maknanya dalam. Merakyat berarti hadir di tengah rakyat, bukan hanya saat kampanye. Merakyat berarti menyatu dengan denyut kehidupan kami, bukan sekadar datang membawa janji lalu hilang setelah kursi tercapai. Merakyat berarti memahami bahasa tangis kami, bukan hanya bahasa protokol di ruang sidang.
Kami tidak butuh kalian turun ke sawah hanya untuk foto, tidak butuh kalian minum kopi di warung demi pencitraan. Kami butuh kebijakan nyata yang lahir dari nurani. Kami butuh keberpihakan yang konsisten, bukan retorika di depan kamera. Janganlah tidur saat sidang membahas soal rakyat, sebab tidur kalian adalah mimpi buruk bagi kami.
Surat ini bukan sekadar keluh kesah, melainkan juga doa. Kami ingin melihat negeri ini tegak, adil, sejahtera. Kami ingin anak-anak kami tumbuh dalam pendidikan yang bermutu, bukan sekadar kurikulum yang berganti-ganti sesuai selera politik.
Kami ingin harga kebutuhan pokok stabil, agar perut tidak selalu jadi alasan keributan di rumah. Kami ingin kesehatan terjamin tanpa harus menunggu antrean panjang atau terhalang biaya.
Kami ingin hukum ditegakkan tanpa pandang bulu, agar keadilan tidak hanya milik yang berkuasa. Dan semua itu, sebagian besar, ada di tangan kalian.
Wahai sahabat,
Jika kalian benar-benar sahabat rakyat, maka tunjukkanlah keberanian itu. Jangan biarkan gedung parlemen menjadi menara gading yang jauh dari suara kami.
Ingatlah, kursi itu hanyalah sementara, tetapi jejak yang kalian tinggalkan akan dikenang lama. Jika baik, rakyat akan mendoakan kalian. Jika buruk, rakyat akan menuliskannya dalam sejarah sebagai luka demokrasi.
Kami tidak ingin lagi melihat DPR menjadi tempat di mana undang-undang lahir untuk menguntungkan segelintir orang. Kami tidak ingin mendengar lagi kabar korupsi, skandal, atau transaksi politik yang merugikan negeri. Kami ingin DPR menjadi rumah aspirasi, tempat di mana suara kecil kami didengar dengan besar hati. Tempat di mana “wakil rakyat” benar-benar berarti: mewakili rakyat.
Saudara wakil rakyat,
Surat ini panjang karena penderitaan kami pun panjang. Kami menulis bukan untuk menuduh semua sama. Kami tahu, ada wakil rakyat yang jujur, yang gigih, yang berani menentang arus demi kebenaran.
Kami tahu, masih ada yang bersih hatinya, yang sungguh-sungguh ingin negeri ini maju. Untuk mereka, kami angkat topi, kami titipkan doa. Tetapi jumlah mereka sering tenggelam oleh suara mayoritas yang lebih memilih diam, tertawa, atau sekadar berkata “setuju”.
Maka, sekali lagi, kami ingin mengingatkan:
Janganlah kalian jadi paduan suara. Jangan hanya tahu nyanyian “setuju”. Jadilah suara lantang yang berbeda, jika itu demi kebenaran. Jadilah suara minoritas yang berani, jika itu demi keadilan. Jadilah manusia yang merdeka, bukan boneka partai, bukan alat kepentingan sesaat.
Akhirnya, surat ini kami tutup dengan sebuah harapan: semoga kalian membaca dengan hati, bukan sekadar mata. Semoga kata-kata ini mengetuk pintu nurani, bukan hanya menambah tumpukan arsip. Sebab kami menulis dengan darah dan air mata kehidupan yang nyata. Dan bila surat ini tidak sampai ke meja kalian, biarlah sampai ke langit, agar Tuhan menjadi saksi bahwa rakyat telah bersuara.
Wahai wakil rakyat,
Merakyatlah, atau sejarah akan menghapus nama kalian.
Makassar, 31 Agustus 2025












