Tren positif yang sama juga tercermin dari PMI Indonesia yang berhasil rebound ke zona ekspansif. Pada Februari 2025 berada di level tertinggi secara global setelah India, yaitu mencapai 53,6. Pertumbuhan Manufaktur didorong oleh lonjakan permintaan baru, sehingga merangsang aktivitas produksi dalam negeri.
Berbagai indikator positif ini mencerminkan kestabilan dan ketahanan ekonomi kita yang tetap solid, serta menjadi modal yang baik untuk terus mendorong pertumbuhan berkelanjutan. Dari indeks PMI, Manufacktur Indonesia tercatat naik 1,7 poin pada Februari 2025. Sementara itu, neraca perdagangan Indonesia kembali mencatatkan surplus pada Februari 2025, dengan nilai mencapai US$ 3,12 miliar.
Sementara itu, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Mahendra Siregar (dalam Siaran Pers SP 54/GKPB/OJK/III/2025 tanggal 21 Maret 2025) menyatakan bahwa hasil tinjauan berkala Moody’s yang menegaskan kesesuaian _Sovereign Credit Rating_ (SCR) Republik Indonesia pada level Baa2 dengan _outlook_ stabil mencerminkan keyakinan global terhadap ketahanan ekonomi Indonesia.
“Ini adalah bukti bahwa kebijakan yang kita jalankan secara konsisten mampu menjaga stabilitas di tengah dinamika global. Kami berharap hasil tinjauan berkala Moody’s ini semakin meningkatkan kepercayaan investor terhadap prospek Indonesia,” kata Mahendra.
Untuk terus memperkuat stabilitas sektor keuangan, OJK terus menjalankan program prioritas tahun 2025. Yaitu terus memastikan keuangan yang sehat, inklusif, dan berdaya saing untuk menopang pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Sebagai bagian dari Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), lanjut Mahendra, OJK akan terus memperkuat sinergi kebijakan guna memastikan stabilitas sistem keuangan tetap terjaga, sekaligus meningkatkan koordinasi dengan Pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang sejalan dengan program Asta Cita.
Begitu pula, dalam Siaran Pers No.27/65/Dkom tanggal 20 Maret 2025, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyatakan, “Kepercayaan Moody’s terhadap resiliensi ekonomi Indonesia menjadi salah satu indikator positif yang mencerminkan keyakinan dunia internasional terhadap fundamental ekonomi Indonesia yang solid, di tengah tingginya ketidakpastian keuangan global.”
Hal ini didukung oleh komitmen otoritas dalam menjaga kredibilitas serta memperkuat sinergi kebijakan guna memastikan stabilitas makroekonomi tetap terjaga.
Koordinasi tersebut mencakup beberapa area yaitu terkait kebijakan stabilitas nilai tukar Rupiah untuk memitigasi dampak dari dinamika global, mendorong pembiayaan ekonomi melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM), dukungan dalam mengakselerasi transformasi digital pemerintah, dan memperkuat hilirisasi dan ketahanan pangan.
*Tekanan Eksternal dan Struktural*
Menurut pengajar di Departemen Ekonomi Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, meski Indonesia berada dalam kategori ”Baa2 stable” yang berarti memiliki kapasitas kredit moderat, terdapat tekanan eksternal dan struktural yang perlu diwaspadai. Hal ini terkait dengan risiko kebijakan proteksionisme AS dan ketegangan geopolitik.
”Jika AS mendorong pembatasan perdagangan yang lebih agresif, ekspor Indonesia bisa terkena dampaknya, terutama komoditas strategis seperti tekstil, elektronik, dan produk manufaktur berbasis nikel,” ujarnya saat dihubungi Kompas.id, Sabtu (22/3/2025).
Di sisi lain, terdapat juga ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter, tetapi terbatas akibat defisit fiskal. Di Indonesia, laju inflasi cenderung turun, bahkan berada di bawah kisaran target BI sebesar 1,5-3,5 persen, yang memberikan ruang untuk pelonggaran suku bunga.












