Interpretasi ulang Denny JA terhadap karya-karya para maestro dengan membubuhkan label “revisiting/revisited” itu sebuah langkah berani yang tak memadai ditakar dengan pakem-pakem konvensional atas nama sakralitas karya. Sebab, semua karya masyhur itu ditambahkan Denny JA dengan minimal satu elemen visual baru yang mengasosiasikan eksistensi dunia digital. Entah dalam bentuk _cyborg_ (separuh manusia separuh mesin), hewan robotik, dan lainnya.
Ada karya bernuansa humoris seperti “Mao” (1973) ciptaan Andy Warhol, yang ditambahkan Denny JA dengan latar belakang Cina modern dan gedung-gedung pencakar langit hasil olahan AI, atau pada “The Night Watch” (1642) karya monumental Rembrandt. Jika pada karya aslinya terlihat sekumpulan lelaki anggota milisia penjaga kota dalam gaya tenebrisme (gaya lukisan yang menampilkan cahaya kontras dengan efek gelap yang mendominasi kanvas dan berfungsi sebagai latar belakang), maka dengan bantuan AI yang digunakan Denny JA ada tambahan seorang pemuda _zaman now_ dan trendi memegang gawai dalam posisi selfie, memotret dirinya dan para milisia.
Pada lukisan “The Art of Painting” (1668) adikarya Johannes Vermeer, versi _revisited_ Denny JA (dengan bantuan AI) menampilkan seorang perempuan yang sedang menjadi model lukisan seorang pelukis yang sedang bekerja. Tangan sang pelukis terlihat. Namun alih-alih memegang palet dan kuas, yang digunakannya adalah iPad dengan _stylus_ warna merah mencolok. Menurut saya, inilah lukisan yang paling jitu menangkap spirit lukisan sebagai sebuah karya visual (dalam paradigma dunia lama) dengan sentuhan AI (sebagai produk dunia baru). Bahkan judul “The Art of Painting” yang diberikan Vermeer masih bisa diinjeksi semangat serupa menjadi “The Art of Painting (with AI)” oleh Denny JA, jika dia mau.
Selain para maestro seni lukis, para tokoh global yang muncul di kanvas adalah Bunda Theresa (“Attention to Loneliness”), Dalai Lama (“Listening to Loneliness”), Mahatma Gandhi (“Listening to Poverty”), Albert Einstein (“Listen to The Laws of Nature”), hingga Elon Musk (“Living In Mars”) dan Jeff Bezos (“Online Shopping”).
Dua tema lainnya dari pameran lukisan ini yaitu “Covid-19” dan “Pilpres 2024” yang memenuhi dinding dan selasar hotel di lantai 2, lebih bercorak _news gallery_ dibandingkan sebuah ikhtiar kontemplatif dalam menyelami makna di balik peristiwa. Elemen inovasi dan kebaruan gagasan pada lukisan-lukisan dengan dua tema ini tak sekuat pada tema-tema lainnya dalam pengindraan saya.
5/
Seperti sudah saya tulis di depan bahwa saya bukan kritikus rupa, maka saya tidak berpretensi menulis kritik komprehensif. Saya hanya seorang tamu hotel dalam 1×24 jam. Entah turis _backpacker_ mancanegara atau pebisnis UMKM dari luar kota yang sedang ada urusan di Blok M.
Tema lukisan yang paling saya nikmati adalah _revisiting/revisited_ karya-karya pelukis dunia. Bagi peminat seni lukis serius, apalagi kritikus, boleh jadi sebaliknya. Lukisan-lukisan tema ini bisa terlihat sebagai _pastiche_ (karya imitasi yang meminjam elemen karya-karya lain yang lebih sohor), bahkan sebagai _kitsch_ yang dalam pandangan Theodor Adorno (1903 – 1969, sosiolog-filsuf Jerman motor Mazhab Frankfurt), adalah “fenomena industri budaya dimana seni diposisikan sebagai karya yang dibuat dan dikendalikan oleh kebutuhan pasar”. Penilaian seperti ini sangat mungkin muncul dari lukisan lainnya seperti “Café Terrace at Night” karya van Gogh namun dengan ‘improvisasi’ penambahan sosok baru, seorang perempuan berwajah Oriental sedang bekerja dengan laptop di seberang para pengunjung café.












