Ada beberapa poin yang disampaikan Denny. Sebagian yang bersifat informasi internal, kurang tepat saya tuliskan di sini. Namun sebagian lain yang lebih bersifat umum, bisa saya sampaikan berikut ini.
Denny menyatakan ada dua masa yang bertolak belakang menanti mereka: panen raya dan paceklik raya. Panen raya akan terjadi pada November 2024, ketika pilkada serentak berlangsung di seluruh Indonesia. Jumlahnya sekitar 500-an pilkada untuk tingkat kabupaten/kota dan provinsi. Panen raya ini bukan hanya akan dinikmati LSI Network melainkan juga oleh konsultan politik dan lembaga survei lainnya.
Adapun paceklik raya akan menyusul segera. “Setelah pilkada serentak, tak ada lagi pemilihan kepala daerah sampai sekitar 4-5 tahun ke depan,” katanya. “Untuk itu kita semua harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya menghadapi paceklik panjang.”
Untuk memperjelas situasi masa depan yang penuh tantangan, Denny memberikan ilustrasi menarik. “Sebagai penggemar film-film klasik, saya beri contoh kisah film _The Best Years of Our Lives_ tahun 1946,” ungkapnya.
Film besutan Sutradara William Wyler ini berkisah tentang tiga orang tentara AS yang kembali kepada kehidupan normal sebagai warga sipil setelah Tentara Sekutu memenangkan Perang Dunia II. Pada awalnya mereka dielu-elukan publik setinggi langit. Puja-puji mereka terima dari empat penjuru angin. Namun hal itu tak berlangsung lama karena masyarakat punya banyak masalah masing-masing yang harus dihadapi.
Akibatnya, kehadiran para tentara veteran dengan segera terlupakan. Sanjungan menguap di keramaian. Lebih tragisnya, mereka kesulitan menyesuaikan diri dengan kehidupan pascaperang yang tak pernah mereka alami di medan tempur. Setiap saat ada saja kesulitan baru yang muncul yang tak mereka pahami. Semakin lama semakin berat. “Maka kita tak boleh seperti para prajurit veteran itu,” Denny menyimpulkan. “Senang mendapatkan pujian sesaat, tapi setelah itu mendapatkan kesulitan bertubi-tubi karena tak siap menghadapi situasi kehidupan yang berubah cepat. Kadang tak bisa diprediksi.”
Bagi saya, ini sebuah pengantar menjelang buka puasa yang tak biasa. Singkat namun istimewa—dan mengena.
4/
Azan maghrib berkumandang, waktunya buka puasa. Saya bayangkan Denny tetap duduk di kursinya, begitu juga petinggi LSI Network lainnya. Pramusaji yang akan mengantarkan takjil ke meja kami. Saya keliru. Denny berdiri dari kursi, berjalan menuju meja prasmanan, berbaur bersama karyawan.
Diambilnya sepiring daging kambing guling, sop kambing, dan beberapa potong lontong, sebelum kembali ke meja dan menyantapnya. Menu lainnya yang tersedia adalah ayam teriyaki, sapi lada hitam, salad Bangkok, nasi putih, beberapa jenis takjil dan _desserts_, serta es krim. Menu yang sama bagi pendiri, BOD, manager, karyawan, resepsionis, _office boy_, dan petugas sekuriti. Tak ada perbedaan, tak ada pengistimewaan.
Setelah makan malam dan salat maghrib, pembawa acara kembali memanggil Denny ke panggung untuk sumbang suara menyemarakkan acara. Lagu “Rindu Rasul” dari Bimbo (syair gubahan penyair Taufiq Ismail) dipilih Denny dan dibawakan penuh penghayatan melalui vibra suara baritonnya yang mengingatkan sekilas pada getar vokal khas Elvis Presley.
Aplaus meriah diberikan hadirin ketika lagu selesai. Denny bersiap turun panggung ketika hadirin bersorak serempak “Lagi! lagi!”. Dia pun bicara dengan trio pengiring.
“Ternyata stok lagu-lagu religi mereka terbatas,” ujar Denny disambut tawa audiens dan ketiga musisi. “Jadi kita nyanyikan lagu sekuler saja bersama-sama.” Meluncurlah lagu “Ku Tak Bisa” (Slank) yang membuat seisi ruangan ikut bernyanyi.












