Saatnya Orang Membaca Tulisanku

Apalagi akhir-akhir ini aku suka membaca novel. Jadi percakapan seputar “Penulis” membuatku cukup tertarik. Namun karena azan berkumandang dari masjid and hari ini Jumat, maka ceritanya kami pending untuk sementara tuk menunaikan sholat Jumat.

Pak Rusdin Tompo adalah penulis dan penyair Sulawesi Selatan. Beliau juga pembicara, pengajar dan juga Host Beranda Pak RT di RRI Pro1 94,4 FM Makassar yang disiarkan sejak tahun 2015. Pada tahun 2017 namanya diabadikan dalam buku Apa & Siapa Penyair Indonesia oleh Yayasan Hari Puisi.

Pak Rusdin Tompo aktif sebagai pegiat literasi di beberapa komunitas dan turut andil dalam pembentukan Komunitas Puisi Makassar dan Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA Provinsi Sulawesi Selatan.

Kembali ke ceriaku, selepas sholat kami melanjutkan obrolan yang sempat tertunda. Pak Rusdin memperlihatkan beberapa tulisan dari penulis pemula padaku. Salah satu di antara penulis itu adalah anak SD,. Sungguh luar biasa. Tidak lupa kami tukaran nomor kontak untuk komunikasi lebih lanjut. Beliau memberi tips sederhana bagaimana memulai tulisan. Beliau memotivasiku untuk menulis. Hasil tulisanku, katanya, nanti bisa langsung dikirim ke beliau.

BACA JUGA:  Piala Dunia, Hak Siar, dan Kerepotan KPID Sulawesi Selatan

Beliau lalu memberi instruksi, silahkan dibaca sebagai referensi, jika kamu masih ragu tuk memulainya. Sebagai penutup cerita, beliau mengingatkanku bahwa “Kau tidak butuh ribuan teori dan ratusan motivasi. Cukup yakin dan memulai untuk menulis. Sudah saatnya orang lain dapat membaca tulisanmu.”

Beliau lalu pamit pergi.

Hening. Aku masih duduk diam di tempat yang sama. Pikiranku terasa kosong. Entah perasaan apa. Aku tak mengerti. Semua percakapan dengan Pak Rusdin membuatku terdiam tanpa suara.

Bukan tanpa alasan, ini bentuk kepercayaan yang diberikan Pak Rusdin dan aku harus merespons dengan penuh tanggungjawab. Pilihan ada di tanganku, “Ambil kesempatan ini dan memulai petualangan sebagai seorang penulis atau lepas dan akan tetap menjalani hidup dengan kebingungan?”.

Setelah beres aktivitas Kak Rahman, kami langsung bergegas pulang. Sepanjang perjalanan, pikiranku masih dipenuh dengan percakapan dengan Pak Rusdin. Aku belum punya keputusan final.

Sesampai di rumah, aku masih merenung dengan pikiran yang belum kunjung kutemui. Apa keputusan atas langkahku berikutnya. Sempat berpikir tuk meminta solusi orang tua agar dapat pencerahan atas langkahku. Namun kuurungkan niatku itu.

BACA JUGA:  MALLARANGAN TUTU ANGGOTA DPRD SULSEL CIUM PEDANG Di RUMAH GURU MENGAJI LORONG, ADA APA?

Kali ini kuingin jadikan keberhasilanku dalam bidang apapun itu sebagai kado terbaik buat mereka. Kuambil laptop dari lemari, lalu duduk dan mulai mengetik kata demi kata.

Betul kata Pak Rusdin, kuncinya adalah “memulai”. Kali ini aku sudah siap dengan keputusanku, berpetualang sebagai seorang penulis. Bahkan aku siap bertarung mengalahkan keraguanku sendiri. (*)

Makassar, 1 Agustus 2024