sama-sama bersenda-gurau di warung kopi, pagi ini wafat. Saudara yang kita antar ramai-ramai berangkat ke suatu daerah, dalam perjalanan, tewas.
Padahal, kematian adalah keniscayaan. Tidak satu jiwa pun mampu menghindarinya. Menurut
M. Quraish Shihab, sedikit sekali yang mau menerimanya—kalau enggan berkata bahwa semua orang merasa sangat berat meninggalkan hidup ini.
Seperti ucap penyair Khairil Anwar, “Aku ingin hidup seribu tahun lagi.”
Serupa firman Allah Swt dalam Alquran, “Setiap seorang di antara mereka menginginkan seandainya dia diberi umur seribu tahun…” (QS Al-Baqarah [2]: 96).
Bukan hanya seribu tahun, bahkan manusia maunya hidup kekal. Keinginan itulah, lanjut penulis buku “Membumikan Al-Quran” itu, yang digunakan Iblis ketika menipu Adam dan Hawa, sehingga keduanya memakan buah pohon yang dinamai sang penggoda Syajarat Al-Khuld (Pohon Kekekalan).
Kita takut mati dan menghindari pembicaraan dengan tema “seram” seperti ini. Membahas soal kematian, bisa menimbulkan sebuah pemberontakan yang menyimpan kepedihan pada setiap jiwa manusia. Yaitu kesadaran dan keyakinan bahwa mati pasti akan tiba dan punahlah semua yang dicintai dan dinikmati dalam hidup. Begitu tulis Komaruddin Hidayat dalam bukunya, “Psikologi Kematian” (2007).
Tak heran, katanya, ada segolongan orang yang memandang kematian sebagai sebuah malapetaka yang merampas kenikmatan hidup, sehingga mereka memilih jalan hidup hedonistis sebelum kematian tiba.
Tentu tidak demikian halnya dengan tokoh yang saya tulis ini. Hari ketika ia berkisah tentang peluru nyasar itu, bagai kultum keagamaan yang sarat makna.
Keaktorannya kuat. Ia jadikan kursi rodanya bagai panggung pertunjukan di mana ia memainkan lakon tunggal tentang dirinya dengan melibatkan emosi kita, kesadaran kita.
Ia memang berkarakter dan memenuhi syarat sebagai representasi lelaki Bugis-Makassar yang macca (pintar), malempu (jujur), warani (berani), magetteng (konsisten), dan tentu saja gagah (magaretta’ [Bugis]/gammara’ [Makassar]). Istilah anak muda sekarang, laki bingiiitz.
Hari itu, saya juga menangkap pesan, seolah ia hendak mengumumkan bahwa dirinya siap kembali pada asalnya, pada ketiadaan, pada Penciptanya.
Ia sendiri pernah menuliskannya dalam buku “Permainan Kekuasaan” (2008). Tulisnya, “Umur Anda, mungkin tinggal hari ini. Maka anggaplah umur Anda tinggal hari ini, atau seakan-akan Anda dilahirkan hari ini, dan akan mati hari ini juga. Dengan begitu, hidup Anda tak akan tercabik-cabik di antara gumpalan keresahan, kesedihan, dan duka masa lalu dengan bayangan masa depan yang penuh ketidakpastian dan acapkali menakutkan.”