Puisi yang Bermakna: Catatan Bukber Satupena dan Komunitas Puisi Esai

Puisi Swary Utami Dewi
Swary Utami Dewi membawakan puisi

Itulah Sutardji Calzoum Bachri. Menjelang 83 tahun pada 24 Juni 2024 nanti, ia tetaplah seorang legenda hidup di dunia penyair dan sastra Indonesia.

Masih ada lagi tampilan-tampilan menarik lain dari Jose Rizal Manua, Fatin Hamama (Ketua Komunitas Puisi Esai), Jamal D. Rahman dan Jodhi Yudono. Tak ketinggalan hadir dua generasi muda, Monika (membawakan puisi esai karya Bang Denny JA) dan Anggun (membawakan puisi karya Sapardi Djoko Damono). Tentu jangan dilupakan denting piano bernuansa religius dari maestro pianis Indonesia, Marusya Nainggolan.

Tak pelak acara Tadarus Puisi ini memang sarat makna dan memberikan oleh-oleh renungan bagi yang hadir. Semoga tetap ada puisi yang bermakna beserta sastra yang menggugat. Mereka selalu diperlukan, terlebih di saat kehidupan makin dibuat hingar-bingar oleh “politik gaya tertentu”, seperti yang terjadi akhir-akhir ini.

‘Jika politik itu kotor, puisi yang akan membersihkan. Jika politik bengkok, sastra yang akan meluruskan.” (John Fitzgerald Kennedy).

24 Maret 2024

BACA JUGA:  Amri Arsyid, Apakah Mungkin Menjadi Petani Kota?