Puisi yang Bermakna: Catatan Bukber Satupena dan Komunitas Puisi Esai

Puisi Swary Utami Dewi
Swary Utami Dewi membawakan puisi

Puncak dari Tadarus Puisi ini adalah penampilan para super maestro alias dedengkot sastra Indonesia. Aspar Paturusi bukan sosok yang asing lagi. Ia adalah aktor, dramawan dan novelis Indonesia. Tokoh budaya dan sastra yang 10 April nanti berusaha 80 tahun berjalan perlahan dengan tongkat ke atas panggung. Ya, bukan belia lagi usianya. Tapi, usia itu hilang begitu rupa dan menjelma kembali muda saat ia membacakan beberapa puisi. Dramatik. Mungkin karena beliau aktor, maka caranya membaca puisi membikin ternganga.

Saya beserta semua yang hadir makin terpesona saat Puang Aspar memanggil istrinya, Lasmy, untuk berduet dalam puisi “Tidurlah,Tidur”. Puisi terakhir ini, menurut Puang Aspar, diilhami lagu Nina Bobo suku Bugis. Ada bagian di mana pasangan ini saling bersahutan, lalu bersama membacakan larik. Lasmy juga berdendang Nina Bobo sesaat dalam bahasa Bugis. Wow, ciamik.

Kini giliran “presiden seumur hidup”, Sutardji Calzoum Bachri. Ayah Tardji, demikian saya biasa memanggilnya, membacakan empat puisinya. Tiga di antaranya berjudul “Cermin”, “Ramadhan” dan “Lebaran”. Ada sebuah puisi yang menyiratkan keinginannya untuk makin dekat dengan Allah. Ini terlihat dari puisi “Ramadhan”. Penggalannya adalah berikut ini:

BACA JUGA:  Ada Usul Menculik Westerling

“…Telah kulaksanakan sholat malam
Telah kuuntai wirid malam dan siang…
……
Dan di malam-malam qadar, aku termenung
Tapi tak bersua Jibril dan malaikat …
…..
Aku bilang, Tarji..
Rindu yang kau rindukan setiap malam
Belumlah cukup untuk menggerakkan Ia datang
Namun, si bandel Tardji ini, sekali merindu takkan melupa
Takkan kulupa janji-Nya
Bagi yang merindu, insyallah akan ada mustajab cinta
Maka, walau tak jumpa dengan-Nya
Shalat dan zikir yang telah membasuh jiwaku ini
Semakin mendekatkan aku pada-Nya…”

Juga ada sebuah puisi dari Presiden Penyair Indonesia ini yang mengkritik perilaku manusia — yang “menangis saat beribadah”, tapi kemudian berganti perilaku selesai beribadah. Bisa jadi inilah gambaran paradoks atau hipokrit manusia. Simaklah penggalan berikut ini dari puisi ”Cermin”:

“…Dalam salat engkau menangis
Dan banjir tangismu hanya sebatas sajadah
Di luar rakaat engkau ngakak
Engkau terkekeh-kekeh
Engkau melupa
Jahanam
Sudah masanya engkau lepas landas dari dunia ini
Sudah waktu
Kalau tidak
Engkau tetap jadi keledai


Engkau merindu
Tangan-tangan juga yang engkau genggam
Engkau mendamba hakikat
Tapi remah-remah juga yang kau telan
Engkau mencinta Dia
Namun syahwat yang engkau sibukkan
Engkau takut busuk
Namun dengan daging engkau berkawan
Engkau bilang takut nanah
Tapi engkau asyik dengan darahmu yang tergenang
Engkau tidak mengalir
Mangkrak”