Lalu saat saya teringat bagaimana praktik “berdemokrasi” di sebuah negeri antah-berantah yang sedang berlangsung, jawaban tentang ini juga saya dapatkan dari Bang Nasir. “Jalan demokrasi memang tidak mudah. Terkadang seperti roller coaster. Tetapi ini memang harus ditempuh. Bagaimana pun, hingga kini demokrasi merupakan pilihan terbaik dari semua sistem politik yg ada di dunia.”
Kata-kata Bang Nasir ini sebelumnya kutemui pada beberapa orang. Salah satunya adalah dari almarhum Buya Ahmad Syafii Maarif. Di buku Islam dan Politik Teori Belah Bambu (1996), yang berasal dari tesis S-2 Buya di Universitas Ohio, beliau menulis sebagai berikut:
“Demokrasi dengan segala kelambanan dan kelemahannya sejauh ini masih dipandang sebagai sistem terbaik yang pernah dikenal manusia. Indonesia pascaproklamasi telah mencoba berbagai model demokrasi agar lebih sesuai dengan kepribadian bangsa yang senantiasa menuntut perumusan baru dan segar. Sesudah bebas dari penjajahan politik, nasionalisme Indonesia perlu direorientasikan untuk membebaskan mayoritas rakyat dari kondisi ketertindasan dan ketidakberdayaan ekonomi. Political will pemerintah sangat dinantikan untuk tujuan strategis ini. Praktek korupsi dan kolusi harus dinyatakan sebagai lawan nasionalisme dengan orientasi baru ini.”
Lalu beralih ke Sekretaris Dewan Penasihat Satupena, Wina Armada. Bang Wina juga menyajikan puisi karya sendiri berjudul “Mantra Kiai”. Puisi ini mengingatkan kita kembali akan sifat manusia yang bisa terpeleset menyerupai makhluk-makhluk halus tertentu sehingga diperlukan mantra kiai untuk menjaganya. Bang Wina, yang menulis setiap hari, membacakan puisinya dengan ekspresif dan memancing tepuk tangan hadirin.
Ada juga Helmi Yahya, yang kali ini tergerak untuk membaca puisi, sesudah tiga puluh tahun absen berpuisi. Bang Helmi memilih puisi karya Rendra, “Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta”. Ia mengatakan dirinya lekat dengan puisi-puisi Rendra. Beberapa kali ia juara baca puisi dan selalu puisi Rendra yang dibaca.
Di acara tersebut, kembali puisi Rendra yang tampil. Puisi yang termuat dalam antologi Blues Untuk Bonnie, ini dipandang banyak pengamat sebagai salah satu puisi Rendra yang paling fenomenal. Jika disimak, puisi tersebut menunjukkan posisi keberpihakan Rendra pada masyarakat kelas bawah, terutama para pekerja seks komersial (PSK). Simaklah beberapa larik berikut:
“…Wahai pelacur-pelacur kota Jakarta
Sekarang bangkitlah
Sanggul kembali rambutmu
Karena setelah menyesal
Datanglah kini giliranmu
Bukan untuk membela diri melulu
Tapi untuk lancarkan serangan
Karena
Sesalkan mana yang mesti kau sesalkan
Tapi jangan kaurela dibikin korban…”












