Usai Mardi Adi Armin menyampaikan catatannya, Rosmawati, mantan wartawati “Pedoman Rakyat” tampil membacakan puisi,yang ikut menyemarakkan suasana diskusi buku yang tuntas menjelang magrib.
Jika membaca puisi ini dapat menyimpulkan apa yang tersurat itu merupakan petualangan spiritual penyair yang tidak berujung. Dia terus mengejar…mengejar tapak Allah, dan akan pernah mampu dicapainya.
Pada episode kedua puisi Syahriar Tato ini terdapat 74 karya puisi. Sebagaimana diakuinya, puisi-puisi ini terinspirasi dari lawatannya ke berbagai negara, seperti Australia, New Zealand, Jepang, Thailand, Mekkah, Madinah, China, Hong Kong, Turki, dan Korea Selatan.
Pria yang ketika menjadi birokrat ini pernah menjabat Plt Kadis Tata Ruang Sulsel ini termasuk figur haus belajar. Setelah meraih Sarjana Administrasi Negara (1982), dia pun menggaet gelar Sarjana Teknik Sipil (1990), Master Sains di Unhas (1992), Doktor Ilmu-Ilmu Teknik (2004), Sarjana Hukum (2009), Magister Hukum (2010), Magister Manajemen (2012), dan sementara kuliah di Institut Kesenian Makassar. Karyanya bertebaran di media massa.
Dia juga kini menjabat Katua Harian Persatuan Artis Film Indonesia (PArFI) Cabang Sulsel, dan Ketua Badan Koordinasi Kesenian Indonesia (BKKI) Sulawesi Selatan.
Karya buku yang sudah terbit antara lain:Siluet Cinta (puisi) yang merupakan episode kedua yang didiskusikan ini, ‘Kota Kekasih’ (puisi), ‘Bulan di Atas Bara’ (novel), ‘Antara Bumi dan Langit’ (Novel), ‘Menanti Musim Berganti’ (Novel), ‘Buku 42 Kritik Film (Kritik Film), “Arsitektur Tradisional Sulsel, Pusaka Warisan Budaya Indonesia”, Mengolah Limbah Domestik dengan Filter Biogeokimia”, dan ikut dalam ontologi ‘Ombak Makassar’, “Sastra Kepulauan”, ‘Pintu yang Bertemu”,” Baruga”,” Mimpi Kesepi Puisi dan Nyanyian Tiga Pengembara”. (*).












