Ketika bom mengguncang Gaza, maka guncang pula dunia literasi kemanusiaan. Kita tak bisa hanya menjadi penonton yang bersandar di balik layar, menatap reruntuhan sambil menghela napas dan berkata, “Kasihan ya.” Tidak! Gaza tidak butuh belas kasihan yang pasif. Gaza butuh dukungan narasi yang aktif. Butuh suara yang membela. Butuh pena yang tak takut. Butuh kalimat-kalimat tajam yang memotong kepalsuan dan menyambung kebenaran.
Menajamkan pena berarti menyusun kalimat dengan kesadaran bahwa setiap kata bisa menyelamatkan nyawa. Sebab di tengah kebohongan yang diulang terus-menerus, kebenaran menjadi barang langka. Dan orang-orang Gaza menjadi korban dua kali—pertama karena dibom, kedua karena disalahpahami.
Perang narasi hari ini begitu masif. Media sosial menjadi ajang adu klaim, saling tuding, saling blokir. Di satu sisi, ada kekuatan besar yang menggiring opini bahwa Gaza adalah tempat teroris, bahwa rakyatnya mendukung kekerasan. Di sisi lain, ada kita—mereka yang masih percaya bahwa anak kecil yang mati dibawah reruntuhan bukanlah “kolateral”, tapi korban dari kebungkaman global.
Lalu, siapa yang akan membela mereka?
Jawabannya: kita semua.
Karena narasi tak akan pernah menang hanya oleh kebenaran. Narasi menang oleh siapa yang menyuarakannya lebih keras dan konsisten. Maka, jangan biarkan narasi tentang Gaza dimonopoli oleh mereka yang punya kekuatan uang dan jaringan media global. Kita mungkin tak punya koran besar, tapi kita punya media sosial. Kita mungkin bukan jurnalis besar, tapi kita punya mata, hati, dan pena. Kita mungkin tak bisa mengubah kebijakan negara, tapi kita bisa mengubah opini masyarakat. Dan itu dimulai dari keberanian menulis dan menyuarakan kebenaran.
Menajamkan pena juga berarti mendidik dan membangkitkan nurani. Karena banyak dari saudara-saudara kita tak paham apa yang sebenarnya terjadi di Gaza. Mereka ikut-ikutan diam. Ironisnya mereka anggap ini bukan urusannya. Mereka bingung memilih sisi. Mereka tak tahu siapa korban, siapa pelaku. Dan itu karena narasi palsu telah mendominasi. Di sinilah tulisanmu, postinganmu, esaimu, puisimu, cerpenmu, dan bahkan status WhatsApp-mu bisa menjadi titik terang bagi mereka yang masih ragu.
Tulislah kisah para ibu yang kehilangan anaknya. Tulislah tentang para dokter yang mengoperasi tanpa listrik. Tulislah tentang para jurnalis lokal yang tetap merekam kenyataan walau nyawa jadi taruhan. Tulislah, karena dari tulis itu akan lahir empati. Dan dari empati akan tumbuh solidaritas.
Bagi kamu para penulis yang pandai menulis, maka tajamakanlah penamu. Bagi Kamu yang memiliki pengikut di media sosial, gunakan pengaruhmu untuk membela Gaza. Bagi kamu yang menjadi guru, sisipkan kisah Gaza dalam pelajaranmu. Bagi kamu yang seniman, lukislah duka Gaza agar abadi dalam karya. Dan setidaknya bagi kamu yang hanya punya pena dan secarik kertas, teruslah menulis. Karena sejarah membuktikan, satu tulisan bisa menjatuhkan tirani.