“Tubuh kalian sudah tidak dikoordinir oleh otak, tapi oleh gagasan atau ide,” katanya. Artinya, tubuh diharapkan menjadi subjek yang berpikir dan merasa secara mandiri, bukan sekadar menuruti perintah kesadaran rasional.
Pada tahap awal latihan, Eko menyadari bahwa para aktor cenderung masih “memerintahkan otak.” Mereka berusaha menghafal, mengatur, dan mengontrol setiap gerak dan emosi.
“Awal-awal kita seperti memerintahkan otak, harus begini harus begitu,” ujarnya.
Hal ini wajar, karena sebagian besar aktor baru pertama kali mendalami metode riset tubuh dalam konteks Teater Lho. Namun bagi Eko, justru di titik inilah proses pembelajaran yang sesungguhnya dimulai, dari kesadaran akan keterbatasan diri menuju pembebasan tubuh dari dominasi pikiran.
Riset tubuh dalam Borka dilakukan melalui berbagai eksplorasi: latihan pernapasan, improvisasi gerak, meditasi dalam diam, serta penelusuran gestur-gestur spontan yang muncul dari ingatan personal. Tubuh diajak untuk berbicara tanpa teks, tanpa instruksi verbal, agar yang muncul bukan tiruan gerak, melainkan kesaksian tubuh itu sendiri.
Dalam setiap sesi, aktor diajak menelusuri bagaimana tubuh mereka bereaksi terhadap ruang, suara, cahaya, bahkan terhadap kehadiran aktor lain. Dengan demikian, riset tubuh menjadi proses penyingkapan, bagaimana tubuh menemukan bahasanya sendiri untuk menceritakan pengalaman.
Hasilnya, muncul gerak-gerak yang tidak “dirancang” secara estetis, tetapi lahir dari kedalaman pengalaman.
Dalam konteks Lakon Borka, tubuh Borka menjadi simbol pemberontakan terhadap sistem yang menindas; tubuh Sirin menjadi ruang empati dan kehilangan; tubuh Paman mencerminkan kekuasaan yang rapuh; sementara tubuh Nenek menjadi saksi sejarah, tubuh yang menua, namun menyimpan hikmah dan luka.
Semua tubuh itu tidak sekadar memainkan peran, melainkan menjadi peran itu sendiri melalui penemuan bahasa tubuh yang unik dan personal.
Dalam pandangan Eko, riset tubuh bukanlah penolakan terhadap naskah atau teks, melainkan penemuan kembali makna teks melalui tubuh. Ia mengatakan bahwa nantinya di atas panggung, “tubuh harus bicara, bukan hanya sekadar menghidupkan teks.”
Ini berarti tubuh menjadi medium ide, bukan sekadar alat peraga. Tubuh berfungsi seperti pena bagi seorang penyair: ia menulis dengan gerak, ekspresi, dan energi.
Dengan demikian, tubuh di Teater Lho bukanlah “boneka” yang dikendalikan oleh sutradara, melainkan pemikir yang memiliki kesadaran. Setiap aktor menjadi penulis tubuhnya sendiri.
Dalam Borka, gagasan tentang kebebasan, perlawanan, dan absurditas manusia modern tidak disampaikan melalui dialog panjang, tetapi melalui ketegangan tubuh yang menolak tunduk pada sistem. Ketika tubuh-tubuh itu berinteraksi di atas panggung, yang terjadi bukan sekadar pertukaran kata, tetapi pertukaran energi dan ide.












