Saya tertegun.
“Saya… dijaga waktunya oleh seorang guru besar?”
Di situlah saya merasa… saya bukan sebatas datang untuk belajar. Tapi sedang diajarkan-tentang arti menghargai.
Prof. Mardi kemudian beranjak, mengambil Al-Qur’an terjemahan dari lemari, lalu menunjukkannya kepada saya.
“Ini Al-Qur’an terjemahan Kementerian Agama,” ~ katanya pelan.
Dan sejak saat itu, percakapan kami berubah menjadi perjalanan makna.
Saya mengulang semua itu dalam hati, pelan… seolah sedang berbicara dengan diri saya sendiri.
“Saya… baru saja pulang dari sebuah pertemuan. Tapi sebenarnya, apa yang saya bawa pulang?”
Saya terdiam.
Hari ini saya duduk bersama seorang guru besar. Tapi kenapa yang paling membekas justru bukan gelarnya?
“Kenapa bukan ilmunya yang pertama kali saya ingat… tapi sikapnya?”
Namun perlahan, saya mulai menyadari-bahwa saya memang membawa ilmu. Hanya saja… ilmu itu tidak datang dalam bentuk yang biasa.
Saya kembali mengingat bagaimana Prof. Mardi menjelaskan bahwa dalam dunia Islam, logika tidak bermula dari Aristotle atau Plato.
“Bapak logika yang sebenarnya itu Nabi Ibrahim.”
Saya bergumam dalam hati,
“Kenapa selama ini saya lebih mengenal Yunani… daripada para nabi?”
Prof. Mardi menjelaskan, selogisme Nabi Ibrahim adalah perjalanan yang hidup-positif… positif… positif… lalu menjadi negatif, hingga menemukan Tuhan yang sejati.
Sementara logika Yunani berjalan lurus-positif ke positif-tanpa ruang negasi spiritual.
Saya merenung,
“Jangan-jangan…kebenaran itu justru ditemukan saat saya berani meragukan apa yang tampak?”
Seperti Nabi Ibrahim yang berkata yakni ini bukan Tuhanku… hingga ia menemukan yang hakiki.
Lalu saya mengingat kalimat berikutnya,
“Al-Qur’an itu logis dan rasional.”
Saya mengulangnya pelan,
“Logis… dan rasional…”
Dan tiba-tiba saya merasa… selama ini saya belum benar-benar menjadikannya sebagai cara berpikir.
Prof. Mardi kemudian mengatakan bahwa Al-Qur’an membuka diri pada berbagai disiplin ilmu. Bahwa ilmu itu memiliki nilai dari kehidupan dan alam semesta. Bahwa ilmu itu adalah panduan.
Saya bertanya pada diri saya sendiri,
“Kalau ilmu itu panduan… kenapa saya masih sering tersesat dalam cara berpikir saya sendiri?”
Saya teringat lagi kata Prof. Mardi bahwa salah satu sumber ilmu adalah imitasi, meniru.
Saya tersenyum kecil,
“Berarti saya harus memilih… siapa yang pantas saya tiru.”
Lalu satu kalimat itu kembali mengetuk hati saya,
“Tuhan akan mempermudah jalan bagi siapa yang ingin menemui-Nya.” ~ Katanya
Saya terdiam lama.
“Selama ini… saya benar-benar ingin menemui-Nya?
Atau hanya ingin tahu tentang-Nya?”












