“Nyen Nawang”: Menertawai Kesedihan

Wing mengingatkan Sidzia saat berulang tahun pada 13 Juni lalu, kreativitas itu bentuk lain dari kebangkrutan eksitensi. Anehnya, kesalahpahaman antar teks diamini sebagai bagian paling erotik dan estetik untuk mendapatkan apresiasi.

“Media karya kreatif seniman bisa apa saja. Tapi esensi dasarnya tidak menjadi penting,” tandas Wing.

*Lantas, mengapa diksinya “Nyen Nawang”?*

“Nyen Nawang dalam Bahasa Bali bila diartikan ke dalam Bahasa Indonesia memiliki arti “Siapa Tahu”, ujar Sidzia.

Namun dalam konteks ini, “Nyen Nawang” bukan sebuah pertanyaan. Melainkan semacam harapan atau sikap optimis.

Lantas Sid memberi contoh. _Nyen Nawang mani semengan maan rezeki_ . Artinya, siapa tahu besok pagi dapat rezeki.

“Namun, bila ditautkan dalam Bahasa Jawa, “Nawang” memiliki arti melihat,” tambah Sidzia.

“Nyen Nawang maksudnya (harapannya) apa, jika dikaitkan dengan _art exhibition_ ?”

“Mungkin kalau bicara secara global –bila dianalogikan sebuah negara–, ini bentuk respon terhadap kondisi kesemrawutan yang terjadi di Republik ini. Namun bukan berarti kita lantas menyerah. Ada api yang harus tetap di jaga dan menyala, salah satunya kesenian. Kira-kira seperti itulah,” ujar Sidzia.

BACA JUGA:  MENULIS DENGAN PENA

“Ya. Soalnya dari judul-judulnya sangat unik. Keseharian tapi punya makna besar.”

Soal ini, Sidzia menganalogikannya dengan lokasi dan mekanisme pen-‘display’-an. Jauh dari kata estetika. Karena bagaimana pun ruangan untuk pameran yang ada di Teman Baca, beberapa bulan lalu, terkena rembesan air hujan. Lumut dan tembok retak serta sarang laba-laba menjadi hal yang cukup mengganggu.

“Namun, memang itu yang saya rasa pas sebagai gambaran kondisi negara ini,” tegas Sidzia.

Jika ditelisik lebih jauh, maka Veve memberi gambaran rinci. Menurutnya, Sid berkarya karena adanya faktor kegelisahan. Untuk pameran tahun 2025 ini bahkan sejak Desember 2024 sudah tampak kegelisahan itu: seperti orang _bingung_ .

“Lucunya, saya mengira Sidzia marah pada saya. Ternyata itu adalah tanda-tanda dia harus mulai berkarya,” tutup Veve.

*Kerja Kolaborasi*

Penggagas Komunitas Teman Baca Dedy Ahmad Hermansyah menyatakan bahwa kegiatan _art exhibition_ sebagai kerja kolaborasi. Tempatnya selalu terbuka dan akan selalu kerja berjejaring. Sebagai bagian menumbuhkan minat baca.

“Konsepnya adalah literasi. Di sini terjadi proses komunikasi yang terjalin secara dialogis. Mengalir tanpa menghilangkan eksistensi masing-masing,” urai Dedy, alumni Fakultas Ilmu Budaya Departemen Ilmu Sejarah Universitas Hasanuddin Makassar.

BACA JUGA:  Bijak Menggunakan AI dalam Menulis

Setidaknya, tambah Dedy, program Teman Pentas juga bisa berkontribusi dalam mengatasi keterbatasan ruang pameran di Kota Mataram. Dirinya sangat antusias jika berhadapan dengan soal-soal seperti itu.

#Akuair-Perumnas, 16-06-2025