Nona Ambon, Makassar, dan Lagu Anging Mammiri

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 215 Tahun 1961, Studio Lokananta berubah status menjadi Perusahaan Negara (PN), dengan nama baru PN Lokananta. Bidang usahanya diperluas menjadi label rekaman yang berfokus pada karya lagu-lagu daerah, serta pertunjukan seni dan penerbitan buku dan majalah.

Ketika Indonesia didaulat sebagai tuan rumah penyelenggaraan Asian Games IV di Jakarta, tahun 1962, Lokananta punya peran penting dalam diplomasi budaya. Sejumlah lagu daerah, seperti “Rasa Sayange”, direkam pada piringan hitam kemudian dijadikan cendera mata untuk dibagikan kepada setiap kontingen pesta olahraga negara-negara se-Asia itu (indonesia.go.id).

Sejumlah penyanyi dan musisi legendaris Indonesia pernah rekaman di Lokananta, antara lain Gesang, Waldjinah, Titiek Puspa, Bing Slamet, Sam Saimun, dan Buby Chen. Berpuluh-puluh tahun berlalu, nama Lokananta meredup. Nanti terdengar kembali setelah White Shoes and the Couples Company dan Glenn Fedly–penyanyi dan pencipta lagu berdarah Maluku–rekaman di studio bersejarah itu.

Lokananta disebut sebagai lorong waktu musik Indonesia, dengan aset berupa kekayaan data, arsip, dan koleksi rekaman piringan hitam. Jumlahnya tidak tanggung-tanggung, yakni mencapai 53.000 piringan hitam, dan 5.670 master rekaman bersejarah, di antaranya lagu kebangsaan Indonesia Raya.

BACA JUGA:  Membaca Kisah Hidup Fiam Mustamin

Di situ tersimpan master rekaman lagu Minang, Batak, Maluku, Sumatra, Jawa hingga Makassar. Semuanya masih tersimpan baik dalam rak-rak besi dengan pengaturan suhu guna menjaga kelestariannya.

Penciptanya dari Korps Musik Militer

Bora Daeng Irate disebut sebagai pencipta lagu “Anging Mammiri”. Lagu yang diciptakan tahun 1940an itu bercerita tentang kerinduan seseorang karena terpisah jauh dari kekasihnya. Konon, syair lagu ini berasal dari syair di buku Lontara Mangkasarak, berintikan ilmu pesona, penarik perhatian (Yudhistira Sukatanya dan Goenawan Monoharto [ed.], 2000).

Saat itu, anggota Korps Musik militer ini masih berusia sekira 39an tahun. Sebagai anggota militer; Bora Daeng Irate pernah tergabung dalam Batalion 718 pimpinan Kolonel Makkang Sibali. Lelaki yang akrab dipanggil Tetta ini merupakan pemimpin Orkes Daerah Baji Minasa, di mana Andi Siti Nurhani Sapada pernah bergabung antara tahun 1948-1951.

Lagu “Anging Mammiri”, ciptaan Bora Daeng Irate, tak bisa dilepaskan dari salah satu seniman besar Sulawesi Selatan yang namanya biasa disingkat Asnida itu. Andi Siti Nurhani Sapada (1929-2010), yang pernah jadi penari istana di masa Presiden Soekarno, inilah yang pertama kali mempopulerkan lagu tersebut. Dia bahkan mengembangkan lagu itu menjadi Tari Anging Mammiri.