Tubuh tidak lagi menjadi alat ekspresi semata, tetapi juga sumber pengetahuan. Melalui tubuh, aktor mengenali batas dan kemungkinan dirinya. Ia belajar bahwa setiap gerak memiliki riwayat, setiap diam memiliki makna, dan setiap tindakan merupakan hasil dari pergulatan batin yang panjang.
Ketika aktor mengucapkan kata, bergerak, atau bahkan hanya berdiri diam, ada upaya untuk menembus lapisan makna di balik tindakannya. Dalam setiap “lho” yang terucap, terdapat usaha untuk memahami mengapa sesuatu terjadi, dan bagaimana tubuh meresponsnya.
Proses inilah yang menjadikan latihan teater di Teater Lho bukan hanya latihan teknis, tetapi juga perjalanan batin — sebuah pencarian spiritual melalui medium tubuh.
Dari sinilah muncul kesadaran bahwa menjadi aktor berarti menjadi manusia yang selalu belajar mengalami kehidupan.
Ia tidak hanya menggugat teks, tetapi juga menggugat dirinya sendiri: mengapa saya bertindak begini? apa yang saya rasakan? apa yang hendak saya sampaikan melalui tubuh ini? Dalam proses itulah, seni peran berubah menjadi proses penciptaan kesadaran.
Teks Sebagai Dialog, Bukan Dogma
Bagi Teater Lho Indonesia, naskah tidak diperlakukan sebagai kitab suci yang harus ditaati secara kaku. Ia adalah medan dialog — ruang perjumpaan antara penulis, sutradara, dan aktor. Setiap kalimat, jeda, atau bahkan keheningan memiliki potensi makna yang harus digali.
Proses membaca teks dilakukan dengan tubuh, bukan sekadar dengan pikiran. Aktor diajak untuk membiarkan kata-kata hidup dalam dirinya, menggema dalam gerak, dalam napas, dan dalam perasaan. Naskah menjadi semacam peta yang tidak menetapkan arah pasti, melainkan membuka kemungkinan eksplorasi.
Dalam latihan, sering kali teks “dipecah”, “dipertanyakan”, bahkan “diubah” oleh pengalaman tubuh aktor. Hal ini bukan bentuk pembangkangan terhadap teks, tetapi justru penghormatan — karena dalam proses itu, teks menemukan kehidupannya yang sejati. Ia tidak lagi menjadi simbol mati di atas kertas, melainkan peristiwa yang hidup di panggung.
Dalam karya-karya Teater Lho Indonesia, setiap peran yang dimainkan selalu mencerminkan kekhasan dan karakter aktornya. Peran bukanlah topeng yang menutupi jati diri, melainkan cermin yang memantulkan sisi terdalam dari manusia itu sendiri.
Seorang aktor tidak hanya berusaha “menjadi” karakter yang tertulis, tetapi juga membiarkan karakter itu “menjadi dirinya”. Dalam dialog ini — antara diri dan karakter — terjadi pertemuan yang kaya dan autentik.
Aktor membawa pengalaman hidup, emosi, dan pandangannya sendiri, lalu menenunnya dengan struktur dramatik lakon. Hasilnya adalah pementasan yang hidup, jujur, dan menyentuh penonton karena di dalamnya terdapat kebenaran pengalaman manusia.












