Akhir APBN 2024

Akhir APBN 2024
(karya: Andy SW foto: Aks)

Selain dari pajak, penerimaan bea dan cukai juga tidak mencapai target yakni Rp300,2 triliun sepanjang 2024. Jumlah itu itu lebih rendah dari UU APBN 2024 sebesar Rp321 triliun, namun lebih tinggi dari target laporan semester I-2024 sebesar Rp296,5 triliun.

Kemudian Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sepanjang 2024 tumbuh 5,4% atau mencapai Rp579,5 triliun. Jumlah itu melampaui target di UU APBN 2024 dan laporan semester yang masing-masing sebesar Rp 492 triliun dan Rp 549,1 triliun.

“Jadi ini 3 pendapatan negara kita dalam situasi yang begitu rentan, tidak pasti, tekanan bertubi-tubi, masih terjaga sehingga pendapatan negara Rp 2842,5 triliun itu artinya kita masih tumbuh dari 2023 yang Rp2.783,9 triliun,” ucap Sri Mulyani di kantornya, Jakarta Pusat, Senin, (6/1/2025).

Kedua, belanja negara melampaui pagu sebesar 101,4% menjadi Rp3.350,3 triliun dari Rp3.325,1 triliun namun tetap tumbuh year on year sebesar 7,3%.

“Belanja negara adalah alat shock absorber dan juga adalah agent of development. Kita menggunakan belanja negara sebagai shock absorber untuk mengelola perekonomian yang dibayang-bayangi oleh resiko ketidakpastian yang tinggi,” ungkap Wamenkeu Suahasil dalam Konferensi Pers APBN Kita di Jakarta, Senin (06/01).

BACA JUGA:  Realisasi APBN April 2025

“Ini melalui transfer ke daerah kita dan kita terus menguatkan kualitas belanja negara. Efisiensi terus kita cari. Fokus untuk program prioritas terus kita identifikasi. Dan sinergi antara belanja pusat dan belanja daerah terus kita pertajam. Dan kebijakan belanja tersebut telah berkontribusi kepada peningkatan kesejahteraan yang kita lihat tadi. Penurunan kemiskinan, penurunan kemiskinan ekstrim, pengangguran yang turun, serta kesenjangan yang juga makin mengecil,” tambah Wamenkeu.

Ketiga, total pembiayaan anggaran sepanjang tahun ini realisasinya sebesar Rp 553,2 triliun atau naik dari target tahun ini Rp 522,8 triliun. Sementara itu, defisit APBN 2024 realisasinya lebih rendah dari target Rp 522,8 triliun menjadi hanya Rp 507,8 triliun atau sama-sama 2,29% dari PDB.

Ini berarti realisasi defisit APBN tahun 2024 sesuai disain di level 2,29% PDB. Capaian ini bahkan lebih rendah dibandingkan outlook dalam laporan Semester I-2024 sebesar 2,70% PDB.

“Penurunan defisit ini didukung oleh kinerja penerima negara yang solid serta pengendalian belanja yang efektif. Pemerintah tetap mampu menjaga keberlanjutan program-program prioritas dan memastikan APBN sebagai shock absorber untuk melindungi daya beli masyarakat,” ungkap Wamenkeu Thomas A. M. Djiwandono.