Pameran Lukisan dan Dialog Antargenerasi di Mataram

Bagi Agus Fn, teknik, warna, dan objek hanyalah sarana; yang lebih penting adalah bagaimana karya menjadi refleksi perjalanan batin dan sosial sang pelukis.

Dalam catatan penutupnya, Agus Fn berpesan dengan nada penuh kejujuran:
“Jangan mempercayakan pandangan Anda pada tulisan kurator yang rabun, tapi andalkan intuisi Anda yang jujur untuk berdialog dengan pelukisnya melalui kejujuran karya.”

Pesan ini menggambarkan sikapnya yang rendah hati dan menghormati kebebasan apresiasi publik. Seni, baginya, bukan tentang menafsir sesuai teori, melainkan bertemu dengan kejujuran perasaan dan pengalaman.

Pameran yang Hidup: Antargenerasi dan Estetika yang Beragam

Suasana Pameran “Mengurai Kebekuan” tampak hangat dan penuh warna. Dua puluh empat perupa terlibat, yaitu:

Perpaduan ini menjadikan ruang pameran bukan hanya tempat memajang karya, melainkan ruang dialog dan lintasan sejarah seni rupa Mataram.

Karya-karya yang ditampilkan memperlihatkan keragaman gaya: dari realisme yang kuat secara teknik, hingga abstraksi yang liar dan simbolik. Tema-temanya pun beragam, meliputi lingkungan, tradisi, relasi sosial, hingga perenungan spiritual. Penataan ruang yang rapi dan menyenangkan membuat pengunjung bisa menikmati perjalanan visual yang lancar dan reflektif.

BACA JUGA:  Rahman : Kalau Cinta, Walaupun di Lantai 5 Saya Datangi

Salah satu daya tarik pameran ini adalah kehadiran Nuraisah Maulida Adnani, peserta termuda dengan tiga karyanya: Bersitatap, Hubungan, dan Kepala-Kepala. Karya-karya Nuraisah menghadirkan nuansa eksperimental, dengan teknik campuran (mix media) dan sapuan akrilik yang memperlihatkan pencarian arah estetik.

Dalam tiga lukisan itu, tampak motif berulang berupa tungkai kaki belalang, simbol yang rumit namun menarik, seolah menyimpan tanda-tanda yang menantang tafsir.

Dedy Ahmad Hermansyah, suami Nuraisah, menuliskan refleksi menarik di akun media sosialnya. Ia menyebut bahwa karya-karya Nuraisah “masih mentah” namun “menunjukkan potensi tema yang kuat dan spontan.” Ia juga memberi catatan tentang sapuan kuas yang masih ragu-ragu dan penggunaan tanda tangan yang kurang tepat dalam komposisi visual.

Namun di balik kritik itu, tersirat kekaguman dan kasih seorang pasangan yang memahami perjalanan batin seorang seniman muda. Dedy menulis dengan jujur:

“Saya tahu bagaimana dia kadang tidak konsisten, kadang rajin berlatih tapi tak berapa lama hiatus lagi. Tapi saya percaya, dia hanya perlu banyak berlatih dengan konsisten.”

BACA JUGA:  Kalender yang Telanjur

Catatan kecil ini justru menambah kehangatan pameran. Di tengah karya para maestro, tampil seorang pelukis muda yang berani menapaki jejak pertama. Dialog antara keduanya—Dedy dan Nuraisah—seakan melambangkan dialog antargenerasi seni lukis itu sendiri, di mana kritik, kasih, dan semangat tumbuh bersama.