Pak Djamaluddin Lolo memutuskan agar pengemudi katinting berjalan kosong hingga ke Kalumpang, sementara penumpang lainnya singgah bermalam di satu-satunya rumah penduduk di pinggir sungai. Pak Atik kabarnya menginap di kampung Bonehau.
Di rumah itu hanya ada beberapa orang. Yang rombongan tahu, beberapa gadis desa yang sepanjang malam selalu mengusik rombongan hingga kurang bisa tidur pulas.
Pasalnya, mereka selalu berbisik. Entah apa yang dibisik-bisikkan. Mungkin juga tentang orang-orang asing di bilik sebelah. Tempat mereka tidur hanya diantarai oleh papan saja dengan rombongan wartawan. Jadi, suara mereka terdengar juga walau sebatas berbisik.
Saya teringat kisah menjelang tidur yang diceritakan ayahnya puluhan tahun silam. Dua kakak beradik yang kesasar mampir bermalam di sebuah rumah di pinggir hutan. Saat mau tidur, kedua kakak beradik itu mendengar suara bunyi air mendidih.
‘’Apa yang bunyi, Nek,’’ adik berkakak itu bertanya kepada yang empunya rumah.
‘’Ah, tidak. Kami sedang saling menggaruk,’’ jawabnya.
Setelah mendengar jawaban itu, kedua adik berkakak itu mencoba mengintip. Ternyata, nenek yang tidak lain adalah raksasa itu, sedang menyeduh air. Sang kakak berpikir, pasti akan dipakai untuk merebus daging-daging dia dan adiknya. Maka diputuskanlah untuk kabur. Mereka menggergaji jendela untuk keluar dari rumah lalu melarikan diri.
‘’Apa yang bunyi anak-anak,’’ giliran sang Nenek yang bertanya.
‘’Tidak, Nek. Kami sedang saling menggaruk, karena gatal habis jalan di hutan tadi,’’ jawab mereka.
Lama tidak terdengar lagi suara itu. Nenek raksasa menyangka bahwa kakak beradik itu sudah pulas. Mereka akan dapat santapan lezat. Daging-daging manusia. Mereka langsung menyiram air panas di tempat kedua anak itu tidur. Tidak ada suara menjerit terdengar. Setelah lampu suluh disulut, ternyata tempat itu sudah kosong. Anak-anak sudah kabur malam-malam.
Kembali ke kisah rombongan wartawan yang bermalam. Masih pagi sekali rombongan sudah mulai berjalan lagi. Naik turun gunung melalui jalan setapak yang licin. Rombongan yang dipimpin Djamaluddin Lolo, termasuk yang pertama tiba di Kalumpang. Rombongan Pak Atik, kemudian dijemput oleh empat wartawan yang sudah tiba lebih dahulu. Rombongan bupati juga mengikuti jalan setapak yang dilalui Machmoed dkk.
Ibu kota Kecamatan Kalumpang ini benar-benar terisolasi. Hubungan komunikasi hanya melalui air, mengandalkan katinting’. Komunikasi informasi satu-satunya adalah menggunakan Single Side Band (SSB) langsung ke Kota Mamuju.
Pak Atik ngotot membawa wartawan ke Kalumpang karena pertama kali seorang pejabat bupati berkunjung ke daerah kaya emas ini. Di kantor bupati, setiap ada tamu yang berkunjung, Pak Atik selalu bangga memperlihatkan bongkahan emas mentah yang belum diolah yang bersumber dari Kalumpang. Emas itu hasil dulangan dan pertambangan tradisional penduduk di Kalumpang.
Selain emas, di kecamatan ini terkenal dengan kain sekomandi yang mahal harganya. Terbuat dari serat-serat kayu yang kuat dan diberi warna dari getah kayu. Kain ini memiliki daya tahan yang cukup lama. Harga kain ini juga mahal.
Pada malam hari, ada acara ramah tamah dengan masyarakat setempat. Pak Atik memberikan sambutan. Tak lupa, para wartawan yang mendampingi perjalanannya dia perkenalkan.
‘’Inilah wartawan-wartawan pioner dan pertama menginjakkan kaki di Tanah Kalumpang ini,’’ seru Pak Atik Sutedja, setelah memanggil seluruh wartawan yang mendampinginya berdiri di belakangnya.
Machmoed dkk terharu juga menginjakkan kaki di tanah perawan tersebut. Pada ujung acara, Machmoed sempat membacakan sebuah puisi yang dia gubah ketika tiba di Kalumpang. Dia sendiri lupa judulnya.












