Obituari H.Hasan Kuba: Wartawan, Seniman dan Dramawan

Hasan kuba
Hasan Kuba

Hasan Kuba termasuk serombongan sosok yang aktif di dunia seni sastra dan pentas yang menggandeng keterampilannya sebagai seorang wartawan.

Hobinya main drama (teater) plus baca puisi. Tetapi, tidak tabu bagi seorang seniman menerobos bidang jurnalistik.

Sudah banyak contoh, seniman juga wartawan. Dulu ada, Rahman Arge, Arsal Alhabsy, Aspar, Husni Djamaluddin, Zainal Bintang, Moh.Ramto, Asdar Muis RMS, Hasan Mintaraga, dan sebagainya. Itu untuk Sulawesi Selatan.

Di Jakarta lebih banyak lagi. Banyak seniman dan penyair juga wartawan. Mochtar Lubis (alm), Gunawan Muhammad, Alex Leo Zulkarnaen, dan sebagainya.

Hasan Kuba pun mengikuti jejak mereka. Pria kelahiran Takalar 14 Februari 1952 ini awalnya seorang penulis. Pada tahun 1978, dia menjadi penulis lepas pada berbagai media. Contohnya, Surat Kabar Minggu (SKM) Yudha Minggu Sport dan Film, Pos Film, Barata Minggu. Semuanya terbitan Jakarta. Itu berlangsung hingga tahun 1980. Media ini termasuk pintu masuk banyak penulis menjadi wartawan.

Sering menulis, membuat suami Hamsiah Dg Kebo ini mulai menemukan jalan menjadi wartawan. Pada tahun 1980, Hasan – begitu dia akrab disapa — bergabung dengan SKM Pos Makassar pimpinan Rahman Arge. Cukup lama juga ayah empat anak ini berkiprah di Pos Makassar

BACA JUGA:  Musakkir Basri, Merayakan Wisuda dengan Menerbitkan Buku Puisi

Dalam rentang waktu dua dasawarsa itu, Hasan juga menimba banyak pengalaman di mingguan tersebut. Pada suatu hari tahun 1984, dia mendampingi ‘bos’-nya, Andi Tonra Mahie – Pemimpin Redaksi — pergi ke Sudiang, kediaman Wali Kota Ujungpandang Abustam. Biasa, pergi wawancara.

Mereka menggunakan mobil Sunny. Sekitar 50 m sebelum pintu I Unhas Kampus Tamalanrea, Andi Tonra berniat melambung sebuah mobil di depannya. Gas sudah ditancap, dari depan – arah berlawanan – melaju sebuah mobil lain yang jaraknya sudah dekat.

Andi Tonra mencoba mengerem Sunny yang dikendarainya. Remnya blong. Tidak ada pilihan lain. Upaya melambung mobil di depan tetap dilanjutkan agar terhindar dari tabrakan. Benar juga, berhasil dan selamat.

Mendampingi ‘bos’ seperti itu sudah rutin dilakukan Hasan. Ke kabupaten-kabupaten apatah lagi. Sambil melakukan perjalanan jurnalistik, Hasan juga belajar. Mulai dari soal keredaksian (penyusunan berita dan peliputan), lay out (perwajahan), hingga pemasaran dan periklanan.

Jika Pemimpin Umum Pos Makassar Rahman Arge melakukan perjalanan jurnalistik ke daerah dan ke luar Sulawesi Selatan, Hasan pun sering diajak. Ke berbagai kota pernah dia dampingi Arge. Ke Jakarta, Surabaya, Medan, dan kota-kota besar lainnya.

BACA JUGA:  Badaruddin Amir dan Buku Apa dan Siapa Penyair Indonesia

Dalam perjalanan seperti inilah Hasan sering memanfaatkan waktunya untuk banyak belajar. Dari Arge, dia belajar mengenai penulisan berita, artikel, dan reportase. Termasuk bagaimana menelusuri kehidupan ini.