Masa penjajahan Jepang membawa tragedi. Thoeng menolak bekerja sama dengan penjajah karena tidak ingin menjadi alat penindasan terhadap rakyat. Sikap beraninya itu membuat dia dianggap musuh. Ia bersama empat anak laki-laki dan dua menantunya ditangkap, lalu dieksekusi di kawasan Gowa. Salah satu menantu yang menjadi korban adalah suami dari anak Ince Kuma.
Setelah kematiannya, keluarga Thoeng menjadi target operasi Jepang karena diketahui menyembunyikan para pejuang Indonesia di rumah dagang warga Tionghoa dan memfasilitasi pertemuan rahasia para pejuang. Keluarga ini secara terbuka menyatakan sikap menentang penjajahan.
Melanjutkan semangat sang Mayor yang pantang tunduk pada ketidakadilan.
Kini, nama Mayor Thoeng memang jarang disebut dalam sejarah resmi Makassar. Namun jasa dan keteladanannya tetap hidup dalam ingatan mereka yang mengenalnya. Ia bukan hanya pemimpin komunitas Tionghoa, melainkan juga tokoh kemanusiaan dan persaudaraan sejati yang memberi warna pada perjalanan kota ini.
Makassar tumbuh dari semangat keberagaman, dan Mayor Thoeng salah satu sosok yang membuktikan bahwa keberagaman dapat menjadi kekuatan Mengangkat kembali kisah Mayor Thoeng bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan juga merawat nilai-nilai kemanusiaan yang diwariskannya seperti kejujuran, solidaritas, dan keberanian untuk berdiri di sisi yang benar.
Karena jasa tidak selalu harus diabadikan lewat patung atau nama jalan, tetapi lewat ingatan yang hidup di hati masyarakat. Dan Makassar, seharusnya, tidak melupakan salah satu putra terbaiknya ini. (*).












