“Ngopi Itu Hak Asasi”, Literasi Isu HAM Lewat Seni

Selasa, 10 Desember 2019, “Ngopi Itu Hak Asasi” pun dilaksanakan. Kemasan acara ini berupa sharing session, testimoni, pembacaan puisi, bazar buku dan kaos, serta live painting.

Pengunjung sudah datang sejak sore. Sambil menunggu acara puncak, mereka memesan kopi dan cemilan. Selepas salat Isya, baru acara dimulai.

Sejumlah seniman, penyair, aktivis dan pegiat HAM, serta akademisi hadir malam itu di Etika Studio. Dr Fadli Andi Natsif (dosen UIN Alauddin), Dr Faisal Muhammad Faisal MRa (dosen Unismuh), Asmin Amin (aktivis), Yudhistira Sukatanya (seniman), dan sejumlah nama lainnya.

Sebagai pemandu acara “Ngopi itu Hak Asasi”, saya menjelaskan bahwa ide acara ini sederhana dan dipersiapkan sangat singkat, tak lebih dari 10 hari.

Kami–para inisiator–yakni, saya, Rimba, dan Irfan, hendak menghadirkan kegiatan kampanye publik bertema HAM dengan cara yang menghibur dan asyik. Kami meyakini, nilai-nilai HAM yang universal akan menjadi perekat gelaran kegiatan ini.

“Ini merupakan kerja jaringan, yang bahasa kerennya networking. Namun gampangnya ini kegiatan teman ajak teman,” kata saya malam itu.

BACA JUGA:  AB Iwan Azis: Prinsip Kita, Tidak Mau Diatur

Mengawali acara “Ngopi itu Hak Asasi”, saya membacakan salah satu puisi Wiji Thukul dalam buku kumpulan puisinya, “Aku Ingin Jadi Peluru”, sebagai opening. Dengan dukungan sound system yang prima dan lighting yang cukup bagus, acara pun mengalir lancar.

Di panggung dengan bentangan spanduk bertuliskan “Hak Asasi Harga Mati”, saya membacakan puisi karya penyair yang sejak 1998 dinyatakan hilang itu. Lantas secara bergantian saya mengundang satu demi satu penyair, dan penyuka puisi, membacakan puisi-puisi yang bernuansa kemanusiaan.

Ada empat lukisan potret karya Rimba jadi bagian dari dekorasi panggung. Potret-potret itu merupakan para aktivis perempuan. Mereka adalah Ema Husain, Nina Basirah, Sri Endang, dan Lusia Palulungan.

Berbarengan dengan itu, di sudut lain, tiga perupa mulai memainkan kuasnya di atas kanvas seukuran 1×1 meter. Ketiga seniman itu masing-masing Rimba dari Rumah Seni Kasumba, serta Jenry Pasassan dan Faisal Syarif dari Makassar Arts Initiative Movement (MAIM).

Rimba melukis aktivis HAM Munir dengan judul “Munir Tidak Mati”, Jenry Pasassan membuat lukisan dengan judul “Fight for Living”, dan Faisal Syarif melukis “Kopi Ngebatin”.
Budi Prapto (alm), yang semasa hidupnya dikenal sebagai birokrat-seniman, tampil membacakan puisi-puisi Wiji Tukhul. Vokalnya artikulatif dan lantang saat membacakan puisi “Bunga dan Tembok” dan puisi “Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu”.