Sebagai informasi, kopi Arabika Kalosi, Enrekang, sejak tahun 2013, sudah mendapatkan sertifikasi Indikasi Geografis (IG) dari Ditjen Hak Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM. Ada 21 kopi terbaik Indonesia yang sudah mengantongi IG, termasuk kopi Arabika Kalosi yang disuguhkan kepada saya.
Kopi ini memiliki identifikasi geografis yang terikat pada daerah dataran tinggi Enrekang. Daerah ini memiliki kondisi alam unik berupa tanah purba yang kaya zat besi. Sehingga menghasilkan kopi dengan kualitas dan rasa khas, seperti kekentalan yang bagus, keasaman rendah, rasa cokelat, dan aroma buah jeruk yang kuat.
Sambil ngopi, sesekali mata saya menyisir judul-judul buku yang dipajang di rak. Antara lain, ada buku berjudul “Agroliterasi”, “Perihal Karrang dan Prakarsa Literasi Lokal”, “Lokalitas Enrekang dan Budaya Literasi”, juga buku “Jejak Arsitektur Rumah Duri”.
Buku terbitan lebih lama juga dipamerkan. Misalnya buku “Perjanjian Bersaudara Sawitto dan Enrekang” yang ditulis H Puang Palisuri, dan buku “Massenrempulu Menurut Catatan DF Van Braam Morris” yang diterjemahkan oleh HAM Mappasamba. Dari sampul buku-buku itu, tampak kalau merupakan koleksi lama Dispustaka.
Saya memuji Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Enrekang, yang kreatif dengan memfasilitasi penulisan dan penerbitan buku-buku tema lokal. Dr Irsan, yang juga merupakan Ketua Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Kabupaten Enrekang, mengungkapkan bahwa instansinya memang kerap mengadakan pelatihan dan menghasilkan produk dalam bentuk buku.
Keseruan ngopi di Festival Literasi Sulawesi Selatan 2025 berlanjut, ketika saya diajak bergabung bersama para dedengkot pustakawan di tenda yang hanya berjarak selangkah dari stan Dispustaka.
Di bawah tenda putih itu, ada Pustakawan Ahli Utama (Pustama) Mohammad Hasan Sijaya dan Andi Irawan Bintang. Sekretaris Dispusarsip, Andi Sucianita Hatta, juga berbaur di situ.
Ada pula Kabid Perpustakaan, Andi Sangkawana, Kepala UPT Layanan Perpustakaan, Kaharullah, Kepala UPT Jasa Kearsipan, Irzal Natsir, dan beberapa pustakawan lainnya seperti Syamsir Alam, Syamsuddin, Muh Rusli, Rezha Zarkawi, dan H Dinar.
Saya ikut nimbrung, menikmati kopi Arabika Kalosi yang hangat, dalam obrolan akrab dengan para pustakawan Dispusarsip Provinsi Sulawesi Selatan itu. Andi Ridwan, SE, M.AP, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Enrekang, tampak semringah berada di antara orang-orang yang satu frekuensi: painung kopi.
Di era perpustakaan modern yang berbasis inklusi sosial, suasana perpustakaan memang sudah tak lagi kaku. Kehadiran stan yang menyediakan kopi, dalam sebuah even sekelas Festival Literasi Sulawesi Selatan, bisa jadi daya tarik dan menciptakan ruang sosial yang lebih ramah, mendorong pertukaran ide dan gagasan, sekaligus memperkuat ekosistem gerakan literasi, sebagaimana diharapkan.
Tidak berlebihan bila dikatakan, kopi Arabika Kalosi memberi rasa, literasi memberi penguatan makna yang hakiki. (*)












