Nasrul, Kamus Asal, dan Logo-Logo Berkonsep Aksara Lontaraq

Rusdin Tompo (kuning) bersama Nasrul
Rusdin Tompo (kuning) bersama Nasrul

Pak Nas, memadukan kemampuan olah kata dan olah rasa jadi sederhana. Dia juga mendesainnya secara tematik dan menarik. Nah, desain tata letak memang keterampilan yang dipunya. Dalam bionarasinya, Pak Nas menulis bahwa desain grafis adalah hobinya. Logo Kampoeng Popsa merupakan salah satu karyanya. Dia pernah memenangkan sayembara pembuatan desain logo Sayur Sehat Takalar dan logo Konferensi Dokter Gigi Indonesia.

Pak Nas mantap bekerja di bidang desain grafis ini. Brosur, katalog, majalah hingga buku, entah sudah berapa banyak dibuat. Jangan tanya, berapa banyak spanduk dan flyer kegiatan yang lahir dari kerja kreatifnya. Ia bekerja tanpa gembar-gembor. Ia kru tak kentara yang berada di belakang layar sejumlah kegiatan.

Jika saya butuh spanduk atau backdrop untuk kegiatan, tinggal memberikan redaksi dan konsepnya, Pak Nas akan mendesainnya. Dengan ringan tangan dia akan mengerjakannya. Bahkan bisa diselesaikannya secara cepat. Karena dia punya jejaring ke percetakan, maka pesanan itu bisa diambil dalam bentuk jadi, tinggal dipasang di lokasi kegiatan.

BACA JUGA:  PUASA DAN MANAJEMEN KEBAHAGIAAN

Selain berkomunikasi lewat telepon dan WhatsApp untuk urusan pekerjaan, tak jarang saya ke rumahnya di Jalan Tanjung Pattiro untuk sekadar bersikaturahmi atau membahas buku yang tengah dikerjakan. Kadang pula kami mencari warkop yang tak jauh dari situ untuk ngopi dan membincangkan ‘proyek’ buku.

Kami sudah bekerja sama dalam sejumlah buku. Dia antara lain mendesain buku “Keluarga Pagarra” (Rayhan Inter media, 2021), “Memoar La Sirama: Jejak Anak Kampung” (Rayhan Intermedia, 2021), dan buku Prof Sukardi Weda berjudul “Pusparagam Gagasan: Literasi Politik dan Demokrasi serta Masalah-Masalah Kemasyarakatan Lainnya”. Buku-buku saya yang lain juga dia yang kerjakan, seperti “Mengawal Demokrasi di Udara” (Pijar Press, 2015), “Mozaik Penyiaran” (Media Qita Foundation, 2018), dan “Problematika Sosial Anak” (Pakalawaki, 2023).

Saya mengandalkan Pak Nas kalau hendak membuat desain logo bertema lokal atau berkonsep aksara Lontaraq. Menurutnya, bentuk sudut belah ketupat/appassulapa yang tidak kaku membuatnya bisa dikembangkan ke banyak hal. Berbeda dengan para pendesain logo yang seolah-olah tampak menggunakan aksara Lontaraq, tapi justru merusak aksara kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan itu sendiri. Para pendesain menstilirisasi font-font yang hanya tampak indah tapi mengabaikan penulisan yang benar dari aksara Lontaraq.

BACA JUGA:  Sebagai Pelukis Baliho Konser KLa Project Pertama di Makassar 1993

Karya-karya desain logo Pak Nas, antara lain logo Makkareso (Makassar Kreatif Society), logo Komunitas Puisi (KoPi) Makassar, logo LAPAKKSS (Lembaga Pengembangan Kesenian dan Kebudayaan Sulawesi Selatan) dan logo Festival Aksara Lontaraq. Saya yang mengorder logo-logo itu kepada Pak Nas, setelah memberikan clue tentang konsepnya.

Biasanya, kalau dia sudah membuatnya, saya memberi masukan perbaikan, ya semacam koreksi. Nanti kalau saya yakin layak untuk diteruskan, baru diperlihatkan ke pemesan. Saya bisa jadi teman diskusinya untuk urusan ini karena saya juga punya modal seni dan pengalaman desain-mendesain hehehe.

Salah satu hasil desain saya adalah logo ADVICE Pro, sebuah lembaga konsultasi komunikasi dan kehumasan yang didirikan oleh Muhammad Akbar (Kak Ompe), dosen UNHAS, yang kini sudah menyandang gelar Profesor. Saya mendesain logo ADVICE Pro saat bergabung dengan lembaga itu antara tahun 1995-1997. Selain logo, saya juga mendesain company profile pusat perkulakan GORO dan KIMA (Kawasan Industri Makassar), ketika masih di lembaga itu.

Pak Nas juga punya kemampuan menulis yang baik. Dia sudah menelorkan dua buku, yakni OFF (2015) dan PLANG: Cerita di Balik Nama Jalan di Makassar (2018). Buku OFF yang merekam kalimat terakhir sejumlah tokoh sebelum menemui ajalnya, merupakan buku sejarah yang lahir karena kesukaannya membaca. (*)