Minta ma Hangus-hangus na

Minta ma hangus-hangus na
Pembuatan kue lebaran (ilustrasi)

Kadang jeda yang terlalu lama, membuat penonton (saya) tidak sabar sehingga lebih memilih kabur dari tempat pertandingan dan berkumpul dengan teman-teman untuk acara sahur-sahur atau membangunkan sahur. Karena pengalaman berkata, jika sudah turun jeda permainan, biasanya dilanjutkan keesokan malamnya.

######

Kesibukan menjelang lebaran ala tahun 80 dan 90 sudah mulai hilang, bahkan sudah hilang dalam tradisi keluarga kecil kami. Hal ini karena saat ini telah menjamur toko-toko kue yang menawarkan kue-kue khas lebaran yang dapat didapat hanya dengan memainkan gadget dan kue sudah tiba di depan pintu rumah kita.

Kehidupan serba instan yang memang sangat cepat dan terkesan tidak merepotkan ternyata menghilangkan beberapa tradisi gotong royong antar tetangga, silaturahmi, kekeluargaan dan terutama bagi saya adalah tradisi “minta ma hangus-hangus na ?” yang mungkin tidak didapatkan oleh anak zaman sekarang.

Kenangan ini saya tulis, karena suatu waktu saya lewat di salah satu lorong di bilangan Andi Djemma (landak baru) dan saya mencium aroma kue yang sementara dipanggang dalam oven.

BACA JUGA:  Catatan dari Gustal (1): Berwisata Laut Sembari Bernostalgia

Pikiran saya kemudian menjelajah ke beberapa puluh tahun silam, bagaimana menjelang lebaran aroma ini sangat familiar di mana-mana dan saat ini aroma ini sudah sangat jarang saya temui di rumah-rumah bahkan di rumah saya sendiri.

Saat saya ingin mengakhiri tulisan, tiba-tiba terdengar suara, “Assalamualaikum, tabe ada paket.”
“Walaikumsalam, iye,” jawabku kemudian beranjak menuju depan pagar.
“Iye, tabe, kita yang pesan kue lebaran,” tanya kurir itu lagi.
“Iye,” jawabku sekenanya, kemudian mengambil paket kue lebaran.

Sembari berjalan kegamangan ku muncul, “ternyata tradisi itu, saya sendiri yang matikan.”

“Jadi jangmi harap, kita dengar lagi kalimat “minta ma hangus-hangus na” menjelang lebaran,” pikirku.

Penulis: AwingÂ