Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi sendiri melalui Transformasi Perpustakaan Perguruan Tinggi (2024) menargetkan terciptanya ruang literasi adaptif yang menggabungkan budaya baca dengan teknologi. Ini penting agar mahasiswa tidak hanya mengakses informasi, tetapi juga belajar memverifikasi dan mengolahnya secara kritis.
Terakhir, perlu disadari bahwa membumikan literasi juga berarti memanusiakan pendidikan. Ketika mahasiswa diberi ruang untuk membaca, berdiskusi, dan menulis tanpa tekanan administratif yang kaku, maka kampus telah menjadi ruang aman untuk berpikir.
Dalam semangat Hari Pendidikan Nasional, mari kita bangun ekosistem literasi yang berkeadilan—yang tidak hanya menghasilkan lulusan, tapi juga pemikir dan pembelajar sepanjang hayat.
Andi Sukri Syamsuri, Pemerhati Pendidikan.












