Mengenang Awal Reformasi 1998 Dari Ruang Rawat Inap Kutonton Presiden Berganti

Modal asing di Indonesia hengkang. Kurs dolar Amerika Serikat yang semula Rp 2,600 per dolar pada Agustus 1997 , meroket gila menjadi Rp 14.800 per dolar per Januari 1998.

Perusahaan-perusahaan Indonesia yang meminjam menggunakan dolar buru-buru melunasi utangnya dengan mata uang rupiah yang dimiliki. Kelemahan ekonomi Indonesia ini dibarengi tingginya utang negara.

Upaya Soeharto dengan kampanye “Aku Cinta Rupiah” tidak membuahkan hasil.
Melihat kerusuhan yang marak terjadi, termasuk kasus Trisakti yang menewaskan beberapa mahasiswa, memantik Harmoko yang menjabat Ketua DPR RI dan loyalis Soeharto menyerukan agar Presiden Soeharto mengundurkan diri tiga hari sebelum Soeharto benar-benar lengser.

Gara-gara sarannya itulah sehingga Harmoko dicap sebagai “Brutus”, mengacu pada Senator Romawi Marcus Junus Brutus yang membunuh paman buyutnya, Julius Caesar.

Pukul 09.00 WIB, Soeharto muncul di beranda Istana Negara mengenakan jas lengkap dan berkopiah hitam. Memakai kacamata dengan muka serius dan tegas, dia membaca naskah pengunduran dirinya, disaksikan B.J.Habibie, Wakil Presiden yang kelak menggantikannya, dan berdiri di sebelah kirinya. Habibie berdiri dengan pandangan menyerong dengan tangan kanan di atas terlipat di depan ujung jasnya.

BACA JUGA:  AIRMATA SUDAH HABIS.

Usai Soeharto menyampaikan pengunduran dirinya, B.J.Habibie berpindah tempat. Mengisi tempat di depan mikropon yang ditinggalkan Soeharto yang mundur beberapa langkah ke belakang.

Wajah pemimpin Orde Baru itu tampak sendu dan pasrah menerima kenyataan, saat mendengar Habibie mengucapkan lafal sumpah yang dibacanya dengan memegang sebuah map berwarna cokelat dinaungi kita suci Alquran kecil beberapa puluh sentimeter di sampingnya kirinya.

Mata saya tidak terpejam sedikit pun menyaksikan seremoni peralihan kekuasaan yang berlangsung konstitusional ini dengan alasan tunggal. Presiden berhenti dari jabatannya jika ia mengundurkan diri. Pasal UUD 1945 menyebut, Wakil Presiden akan naik menjadi Presiden ketika terjadi peristiwa pengunduran diri.

Layar TV langsung berpindah mengikuti laporan pandangan mata para reporternya di lapangan. Para mahasiswa yang berdemonstrasi di Gedung DPR RI Senayan dan di beberapa tempat, memekik dan berteriak menyampaikan rasa gembira. Perjuangan mereka, melengserkan Soeharto sudah berhasil.

Namun pertanyaan yang tersisa, bagaimana keadaan Indonesia ke depan setelah Soeharto lengser? Dari sebuah ruang rawat inap RSUP Wahidin Sudirohusodo saya menyaksikan peralihan kepemimpinan nasional itu. Dari Soeharto ke B.J.Habibie, 21 Mei 1998. Rasanya seperti bermimpi! (*).