Kenangan ini selalu mengiang di benak saya saat mendengar nama Abdi Tunggal. Posturnya yang ramping memang memudahkan dia lincah berlari di lapangan. Walaupun posisinya sebagai “winger” (pemain sayap), namun dia kerap cerdik memanfaatkan kesempatan untuk menggetarkan sendiri jala lawan.
Setahun setelah (1974) merebut Piala Soeharto, PSM menjamu Gasko Kolaka, 25 Oktober 1975. Abdi Tunggal menyumbang dua gol (menit ke-35 dan 74) kemenangan 2-0 timnya.
Pada awal tahun 1978, tanggal 5 Januari tepatnya, Abdi sumbang dua gol (pada menit ke-43 dan 78) atas kemenangan 7-0 PSM terhadap Persisum Sumbawa dalam babak penyisihan divisi perserikatan. Anwar Ramang memborong 4 gol (menit ke-15, 25, 78, dan 80) dan satu gol lainnya lewat kaki Dullah Rahim dalam laga ini. Empat hari kemudian, PSM menang 3-1 atas Perseban Banjarmasin. Abdi menyumbang 1 gol pada menit ke-25.
Yang sangat spektakuler pada laga 21 Januari 1978, partai delapan besar Pool F di Stadion Utama Senayan Jakarta, melawan PSBI Blitar yang pernah dilatih Ramang, Abdi menciptakan “hattrick” (pada menit ke-12, 37, 40) saat Tim “Juku Eja” menghujani gawang PSBI 8-1. PSM memuncaki klasemen grup. Namun pada partai semifinal, PSM harus mengakui Persebaya yang kemudian menjadi kampiun pada musim kompetisi ini setelah menang 4-3 atas Persija. PSM harus puas pada peringkat IV setelah kalah dalam adu penalti 3-4 (1-1) melawan musuh bebuyutannya, PSMS Medan.
Ketika PSM berhadapan dengan PSMS dalam laga perserikatan 11 Januari 1979, Abdi berhasil mengunggulkan PSM pada menit ke-15, sebelum timnya mengalami kekalahan 1-2 atas tim “Ayam Kinantan” itu. Pertemuan kedua tim “Ayam” (Jantan dan Kinantan) ini kerap berlangsung dalam suasana panas. Dalam pertandingan ini, Medan berhasil mengalahkan PSM melalui tendangan penalti yang dilakukan Zulham Effendy pada menit ke-76 melalui titik penalti, setelah mencetak gol penyama kedudukan pada menit ke-38.
Abdi Tunggal termasuk salah seorang pemain PSM yang merebut Piala Soeharto tahun 1974. Tim PSM tahun itu terdiri atas :Jhonni Kamban (Kiper), Hafied Ali, Nur Amir, Hilaluddin, Malawing, Yusuf Malle, Arifuddin Malle, Ronny Pattinasarany (capt), Donny Pattinasarany, Najib Latandang, Saleh Bahang, Keng Wie, Achmad Jauhari, Hafied Sijaya, Mustafa Kamal, Abdi Tunggal, Anwar Ramang, Amang dan Herman Sumbu. Bertindak sebagai pelatih, Ilyas Haddade, Ass. pelatih : Drs. Haryanto, dan manajer H.M.Dg. Patompo (Wali Kota Ujungpandang).
Pemain sayap PSM era 1970-an ini, 23 April 2025 menutup usia dan interaksi dengan teman-temannya. Saya terakhir bertemu pemain yang dilahirkan di Makassar 13 Desember 1952 ini pada tanggal 31 Juli 2024, saat malam takziah kepergian (29 Juli 2024) Mallawing, teman satu timnya saat merebut Piala Soeharto tahun 1975.
Dia pertama mengenali saya di antara teman pemain PSM yang hadir di Jl. Abdullah Dg.Siruwa kediaman Mallawing, malam itu. Saya masih ingat saat itu, ada Ansar Abdullah (kiper PSM saat juara PSSI Perserikatan 1991/1992), seperti yang ada di foto ini. Abdi Tunggal mengenakan kopiah hitam dengan kemeja lengan pendek hitam.
Abdi Tunggal memang tidak mengikuti jejak teman-temannya yang lain seperti Syamsuddin Umar yang menjadi pelatih PSM, bahkan asisten pelatih tim nasional. Pada 2009 hingga 2015, ia diberi kepercayaan sebagai penasihat teknis PSM. Dalam rentang waktu itu, ia mendampingi enam pelatih kepala dari berbagai latar belakang dan karakter—mulai dari Hanafing, Tumpak Sihite, Robert Alberts, Petar Segrt, Jorg Steinburnner hingga Rudi Keltjes. Tugasnya tidak kecil, menjadi urat nadi pembentukan suatu tim yang tangguh. Abdi Tunggal memberi masukan dalam perekrutan pemain, skema permainan, dan strategi bertanding.












