Sebuah novel dari Teheran bisa menyentuh pembaca di Johannesburg.
Sebuah puisi dari St. Petersburg bisa menghibur jiwa di Jakarta.
BRICS dapat menjadi rumah penerjemahan dan perasaan, tempat bangsa-bangsa bertemu bukan di ruang konferensi, tapi dalam metafora dan kenangan.
Perjanjian ekonomi bisa usang, aliansi politik bisa bergeser. Tapi satu puisi yang menggetarkan hati lintas bangsa akan bertahan jauh lebih lama dari diplomasi apa pun.
Jika G7 berbicara lewat kebijakan, maka BRICS dapat berbicara lewat puisi.
Jika Barat membangun soft power lewat hiburan,
maka Dunia Selatan membangunnya lewat pencerahan.
Sastra, pada puncaknya, bukanlah propaganda. Ia adalah penyingkapan.
Ia mengingatkan kita bahwa di balik setiap batas negara,
ada jiwa manusia lain yang tak berbeda dengan kita.
-000-
Ketiga, Karena BRICS Dapat Menjadi Nobel Baru, Namun Nobel bagi Empati
Saya mengatakan ini dengan keyakinan:
Penghargaan Sastra BRICS, pada waktunya, dapat sejajar dengan Nobel Sastra.
Bukan sebagai saingan,
tetapi sebagai pelengkap yang dibutuhkan zaman.
Nobel tumbuh dari tradisi moral Eropa—dari filsafat rasionalisme dan humanisme.
Namun BRICS lahir dari jiwa Global South, dari berabad penderitaan, keimanan, dan kelahiran kembali.
Jika Nobel menghormati kecemerlangan individu,
BRICS dapat menghormati imajinasi kolektif,
yakni keberanian bersama bangsa-bangsa
yang mengubah luka menjadi lagu.
Ia bukan hanya merayakan kepiawaian seorang penulis,
tetapi juga daya tahan suatu bangsa.
Sebab di Selatan, menulis sering kali adalah tindakan perlawanan;
menerbitkan adalah tindakan harapan;
dan bermimpi, di tengah ketimpangan, adalah tindakan iman.
Bayangkan novel dari India berdialog dengan puisi dari Cina, pantun dari Indonesia, dan dongeng dari Afrika Selatan. Ini karya yang dari rahim penderitan kolonial dan revolusi. BRICS.
Dengan dana terjemahan lintas-bahasa dan residensi penulis, ia dapat mengubah sastra yang selama ini menjadi “monolog” dan dominasi Barat menjadi simfoni global.
Atau dengan menggandeng Al, BRICS+ dapat mentransformasi batas bahasa: karya sastra dari Rio hingga Jakarta diterjemahkan serentak ke 50+ bahasa.
Karya terjemahan ini dapat disebarkan via platform digital. Teknologi ini tak hanya demokratisasi akses, tetapi juga menjadikan metafora lokal sebagai milik global.
Ini sebuah revolusi literasi yang mengubah “pinggiran” menjadi pusat
imajinasi dunia.
Hasilnya, karya sastra ikut menjadi jembatan peradaban dunia secara lebih setara.
Jika Nobel mengajarkan dunia untuk berpikir,
maka BRICS akan mengajarkan dunia untuk merasakan.
Dan melalui rasa itulah, yang mendalam, inklusif, dan manusiawi,
pusat kesadaran global baru sedang tumbuh.
-000-
Saya datang dari Indonesia,
tanah di mana gunung berapi dan doa berbagi napas yang sama.
Ini tempat di mana rakyatnya masih percaya
bahwa satu kata, bila diucapkan dengan kejujuran,
dapat mengubah takdir.
Bagi saya, BRICS bukan sekadar aliansi ekonomi;
ia adalah jembatan antarjiwa.
Sebuah pertemuan peradaban
yang tidak bersaing untuk dominasi,
tetapi untuk saling memahami.
Melalui BRICS, mari kita tunjukkan
bahwa sastra bukanlah kemewahan bagi waktu damai,
melainkan benih bagi kedamaian itu sendiri.
Mari kita menulis dalam bahasa kasih,
menerjemahkan bukan hanya kata-kata, tetapi dunia.
Sebab imajinasi juga adalah bentuk keadilan.
Dan setelah kerajaan-kerajaan runtuh,
setelah pasar-pasar berubah debu,
yang tersisa adalah kisah.
Melalui kisah itulah,
kita akan mengingat siapa kita dulu, siapa kita sekarang. Dan siapa kita di masa datang. ***












