Hal itu menjadi bantahan, atas penyebutan Tionghoa adalah golongan yang tidak disukai, yang berkembang dan sampai pada puncaknya di abad ke 18, di mana pada masa itu kurang lebih 10 ribu orang Tionghoa dibunuh di Batavia. Di bawah pimpinan Gubernur Jenderal Valckenier. Yang memerintahkan bunuh habis semua tawanan Tionghoa.
Dapat dilihat bahwa Xenofobia Tionghoa yang berkembang saat itu melalui kekuasaan kolonialisme dan bukan dari masyarakat tapi sangat mengakar dibenak kita. Apakah ini hanya karena persoalan supremasi ataukah entah apa, alasan yang berbelit-belit yang setidaknya mewajarkan minoritas itu untuk terjajah dan direndahkan martabatnya..
Kita mungkin sudah mempelajari sejarah antropologi yang panjang tentang asal muasal orang orang Indonesia, atau tentang ekspansi Kubilai Khan. Terbentang kisah yang sangat panjang, dari migrasi orang orang Asia melalui dua tahapan yang kita kenal dengan paleo mongolid dan Neo mongolid, yang dengan membawa dua kebudayaan besar. paleo mongolid yang masuk dari barat, semenanjung Melayu sampai ke Sumatera dan menyebar, dari timur melalui Filipina sampai ke Sulawesi, dengan membawa neolitikumnya. Juga Neo mongolid yang masuk dari barat dari sumatera dan menyebar, dengan logamnya.
Kita kemudian digariskan dari suatu keturunan yang sama dengan orang orang Tionghoa. Sudjojono menulis kan itu dengan fakta bahwa anak anak di Indonesia dan Tionghoa memiliki petak-petak biru yang sama di pantat.
Tapi nasib malang selalu menjarah tubuh-tubuh para minoritas. Usaha dagangan kecil mereka di pelosok-pelosok terpaksa ambruk, akibat PP no 10 THN 1959..
Kali ini pasti tepat, tetua-tetua Abeng yang berdagang pasti terkena dampak dari PP no 10 THN 1959 itu, yang juga mengharuskan mereka tidak lagi berdagang mulai dari 1 Januari 1960. Karena itu mungkin adalah usaha pemerintah untuk mendongkrak ekonomi Indonesia tanpa melibatkan orang orang Tionghoa, tetapi dengan cara yang kurang baik. Pengusiran terjadi di Kalimantan, Samarinda, dan juga di Cimahi, 2 orang perempuan mati tertembak karenanya.
Betapa hari ini, kita juga dapat melihat xenofobia tionghoa yang hampir serupa dengan di abad ke 18, atau di tahun 50-an dan 60-an itu tapi sudah tak sekejam di masa itu.
Pemerintah mendatangkan mereka di indonesia, dengan harapan setidak-tidaknya membantu mendongkrak perekenomian, alasan lainnya mungkin serupa pengendalian teknologi canggih yang belum mampu dioperasikan oleh kebanyakan buruh Indonesia sehingga membutuhkan orang China. mungkin juga ada suatu kerjasama yang tak terekspos informasinya.