“Kau langsung ke Jakarta, tidak boleh tinggal di Jakarta,” Pak JK berpesan.
Pak JK pun memberikan nota kepada Asmawi yang ditujukan kepada Direktur Utama Bank Niaga Abdul Gani. Pak Amiruddin yang ketika itu menjabat Rektor Unhas juga memberikan nota untuk melapor ke B.J.Habibie yang ketika itu menjabat Menteri Riset dan Teknologi dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Pak Habibie yang selalu menyapa Pak Amiruddin dengan Ahmad adalah dua orang yang berteman lama. Pak Amir yang lebih tua dua tahun dari Habibie, saat bersekolah di Bandung, pernah kos di kediaman keluarga Habibie.
Masih ada lagi satu nota, diberikan oleh Mustamin Daeng Matutu, dosen Fakultas Hukum Unhas yang kerap berlawanan dengan Pak Amiruddin. Nota Mustamin ini ditujukan kepada salah seorang temannya di Jakarta. Tidak satu pun nota itu Asmawi gunakan.
Hanya saja, Asmawi tetap melapor ke Pak Habibie.
“Apa pekerjaan kamu selama menjadi mahasiswa?,” tanya Habibie.
“Saya seorang aktivis,” jawab Asmawi.
“Bagus…bagus. Kamu harus sekolah, ya!” kata pria kelahiran Parapare 25 Januari 1936 dan wafat di Jakarta 11 September 2019 tersebut.
Mendengar pesan Habibie tersebut, dalam hati Asmawi berkata, “saya tidak memiliki uang”. Dia pun menghabiskan waktunya membaca sejumlah buku di perpustakaan. Kebetulan juga pada waktu itu ada Marwah Daud yang kemudian disekolahkan di Amerika Serikat dan setelah meraih doktor mengabdi di BPPT.
Menceritakan kenangannya dengan Habibie, Asmawi menyimpan kesan yang tidak terlupakan. Di dalam buku “Leadership in Practice” yang ditulisnya bersama Rhenald Kasali (Balai Pustaka, 2019), Habibie memberikan sambutan khusus. Bahkan Asmawi memberi satu bab tentang masalah kepemimpinan versi Habibie.
Naskah di dalam buku tersebut diketik sendiri oleh Habibie, meskipun ketika itu sedang dirawat. Ketika Asmawi meminta akan mengetik dan Pak Habibie cukup membacakannya, Presiden ke-3 Indonesia itu menolak.
“Bapak yang bicara, saya yang mengetik,” usul Asmawi.
“Nggak, saya mau ketik sendiri,” balas Habibie kemudian bangun dari berbaring dan duduk mengetik. Padahal, waktu itu tubuhnya kerap tremor (gerakan anggota tubuh yang tak terkontrol).
Akhirnya tim dokter memberi tahu Asmawi.
“Bapak mau istirahat, bapak boleh di luar dulu,” kata Asmawi menirukan permintaan dokter yang merawat Habibie.
Ada satu kisah Habibie yang selalu terngiang di dalam benak Asmawi jika berbicara mengenai masalah kepemimpinan. Suatu hari, setelah beberapa hari dilantik sebagai Presiden RI, Habibie menerima tamu kenegaraan. Tamu yang tidak dikenalnya itu sebenarnya harus diterima oleh Soeharto. Namun pada tanggal 21 Mei 1998, Pak Harto mengundurkan diri, akhirnya Habibie-lah yang menerimanya karena sudah dijadwalkan.
Tamu itu diterima pada suatu acara jamuan makan malam di Istana Merdeka.
“Itu yang di pojok itu, siapa?,” tiba-tiba saja tamu itu bertanya.
“Itu pelayan,” jawab Habibie polos.
“Terus yang memakai jas, siapa?,” tamu pun terus bertanya.
“Itu para menteri,” balas Habibie.
“Mengapa semua pelayan itu pakaiannya sama dengan Anda sebagai Presiden (berkopiah),” cecar sang Tamu.
“Iya, saya juga pelayan ‘the people Republic of Indonesia’. Saya pelayan bangsa Indonesia, makanya saya pakai kopiah. Sedangkan yang tidak memakai kopiah, itu pembantu saya,” kata Habibie dengan diplomatis.
Asmawi mengaku sangat sedih karena pada peluncuran buku 8 Oktober 2019 di Ball Room Hotel JS Luwansa Jl.Rasuna Raid Jakarta Selatan, Pak Habibie tidak sempat menghadirinya karena berpulang pada 11 September 2019. Padahal, Asmawi sudah menjadwalkan bahwa peluncuran buku ini dilakukan di lokasi yang berdekatan dengan kediaman Habibie.
Asmawi kemudian memberi tahu Pak JK perihal persiapan peluncuran buku ini. Pak JK sendiri memberi sambutan di dalam buku tersebut dan juga saat acara peluncuran buku. (Bersambung).












