Ketiga, Palestina adalah milik kaum muslim di seluruh dunia, bukan hanya milik bangsa Palestina. Di tanah yang diberkahi itu, terdapat kiblat pertama kaum muslim, makam para sahabat dan syuhada, dan singgahan atau tempat tinggal para nabi. Tidak heran jika Palestina disebut sebagai bumi para nabi. Jadi, dengan membela kehormatan Palestina menunjukkan dimana keberpihakan kita. Membela hak sesame muslim atau membela sang pekhianat yang serakah, pilihan ada ditangan masing-masing.
Pertanyaan kritis yang jawabannya kita nantikan. Kapan konflik Israel-Palestina berhenti? Saya berani mengatakan tidak akan, sampai sistem Islam tegak di tengah-tengah kita. Karena konflik Israel-Palestina merupakan tragedi kemanusiaan terpanjang sejak Perang Dunia (PD) II meletus sampai hari ini. Berbagai upaya dilakukan tapi hasilnya jauh panggang dari api. Bahkan jika dibandingkan dengan kasus Bangsa Timor Leste saja sudah bergabung dengan Indonesia yang merdeka pada 1945 sudah dihadiahi kemerdekaan pada tahun 2000 lalu. Perundingan, summit forum, konferensi tingkat tinggi, bahkan dikibarkannya bendera Palestina di Markas Besar PBB belum dapat meredam kejahatan Israel atas Palestina. Kemerdekaan yang ditunggu-tunggu belum kunjung tiba. Padahal duka yang dirasakan Palestina semakin tidak manusiawi. Faktanya, ironi Palestina adalah ironi Hak Asasi Manusia (HAM) dan para pejuangnya. Dan hanya sistem Islamlah, dengan satu komando yang mampu mengusir Israel dari bumi Palestina.
Tidak layak bagi kaum muslim meminta pertolongan negara Barat dan sekutunya, apalagi PBB. Umat Islam harus paham bahwa berdirinya negara Zionis (Israel) di atas tanah Palestina karena resolusi PBB yang memaksa Palestina membagi wilayahnya dengan Israel. Jadi, meminta bantuan kepada PBB sama halnya bunuh diri.
Barat selalu menampakkan standar ganda. Tidak ada satu pun negara Barat yang berani menyebut Israel sebagai negara teroris atau menyeret mereka ke pengadilan internasional. Yang bisa dilakukan hanya mengecam dan mengutuk saja, padahal kita semua tahu, menghadapi bangsa bebal zionis tidak cukup dengan bahasa diplomasi atau basa-basi kecaman. Mereka hanya bisa ditundukkan dan ditaklukkan dengan bahasa perang. Dan perang tidak akan terwujud jika sistem Islam belum tegak. Maka tugas kita, memperjuangkan system tersebut agar segera terwujud sehingga Palestina bisa bebas sebebas-bebasnya. Wallahu a’lam.












