Kenangan Seorang Jurnalis Radio: Pager dan Reportase Bermodal Telepon Koin

Pager
Rusdin Tompo saat wawancara

Kebanyakan cara kerja saya dimulai dengan membaca surat kabar yang terbit hari itu. Kemudian menyisir berita-berita yang bisa saya liput, mencatat nama narasumber yang dikutip media lalu mencari nama tersebut di buku kuning atau menelepon ke Call Center 147 Telkom.

Buku kuning adalah sebutan bahasa Indonesia untuk Yellow Pages, yakni sebuah buku direktori telepon bisnis yang disusun berdasarkan abjad.

Buku karya Reuben H Donnelley ini ternyata sudah digunakan sejak tahun 1886. Namun Bell System, era AT&T, yang memiperkenalkannya secara luas pada tahun 1970an.

Di buku tebal dengan sampul dan kertas berwarna kuning ini, ada nama orang, alamat dan nomor kontaknya. Juga nama instansi, organisasi, dan badan usaha, lengkap dengan alamat dan nomor teleponnya. Buku ini juga jadi sarana promosi yang digemari dan efektif di masa itu.

Jangan pikir, begitu sudah dapat nama dan nomor telepon, urusan jadi beres. Tidak semudah itu Sebastio hehehe.

Saya kasih contoh. Saat narasumber yang saya mau hubungi bernama Andi Sumange Alam, saya akan cari nomor kontaknya di buku Yellow Pages. Ternyata ada 6 (enam) orang punya nama yang sama, tentu dengan alamat dan nomor kontak yang berbeda-beda.

BACA JUGA:  IDULFITRI DAN PENGEMBANGAN DIRI.

Untuk memastikan Andi Sumange Alam mana yang saya mau wawancarai, maka saya akan hubungi satu demi satu nomor telepon itu.

Terkadang, saya hanya dapat nama orang yang saya mau wawancarai, dan sama sekali tidak punya nomor teleponnya. Untuk kasus seperti ini, saya mesti menelepon Call Center 147 Telkom. Saya akan bertanya ke operator, untuk mendapatkan nomor kontaknya.

Kalau belum ketemu nama yang dimaksud, saya akan telepon ulang, dengan diselingi jeda beberapa menit. Harapannya, saat telepon ulang, operator lain yang mengangkat dan saya bisa minta nomor yang berbeda.

Ribet? Ya seperti itulah kerja saya. Belum lagi saya mesti menyediakan uang koin terlebih dahulu, yang saya tukar di ga’de-ga’de (kios). Pecahan koin yang berlaku saat itu adalah koin 100, 500, dan 1.000.

Lama pembicaraan tergantung nominal koin yang dimasukkan. Selama percakapan atau menelepon, layar telepon umum akan memperlihatkan durasi pembicaraan.

Bila layar berkedip-kedip menunjukkan angka 0000, artinya koin sudah harus dimasukkan lagi. Kalau tidak, pembicaraan otomatis berhenti.

BACA JUGA:  Muballigh Perlu Menciptakan Personal Branding di Media Sosial

Keberadaan telepon umum ini tidak berada di semua sudut kota. Hanya di tempat-tempat tertentu saja, seperti pasar, terminal, depan pertokoan, dekat halte, sekitar area sekolah dan kampus, atau di kompleks perumahan.

Sayangnya, tidak semua telepon umum ini terawat baik. Kadang tidak bisa dipakai karena rusak atau gagangnya copot oleh ulah vandalisme. Nah, di situlah repotnya.

Jadi, sejak awal saya musti punya gambaran titik-titik keberadaan telepon umum dan yang mana masih bagus digunakan. Ini penting agar saya juga bisa berhitung naik turun angkotnya di mana. Biar tidak kesulitan mencari pete-pete.

Pada saat melakukan reportase, saya akan mencari posisi dengan pandangan yang luas ke jalan, untuk memberi gambaran situasi. Pilihan ini juga membantu saya agar bisa melihat ke arah kerumunan, bila yang mau saya laporkan secara live itu berupa aksi masa atau demonstrasi.

Selain menyebut nama jalan, tempat saya berada, saat menelepon ke studio, saya juga akan menandai posisi saya dengan nama gedung atau apa saja yang ada di situ, agar memudahkan pendengar radio membayangkan situasinya.

BACA JUGA:  Karaeng Patoto, Balla Barakkaka, dan Akademia Plato

“Selamat pagi Sahabat Bharata FM, saat ini, saya Rusdin Tompo, berada di pertigaan Jalan Sultan Alauddin dan Jalan Andi Pangerang Pettarani, tak jauh dari pos polisi. Saya melihat ada massa mahasiswa yang melakukan aksi sejak pukul 09.00. Aksi ini terjadi di dua lokasi kampus berbeda tapi dengan tuntutan yang sama.”