“Kalau saya tidak lulus, nanti bisa jadi headline di koran. Bisa-bisa judulnya, Kapolda Sulselbar gagal jadi Dirjen hehehe,” terang Kapolda dengan gaya bercanda.
Pesan itu saya pegang. Setelah mendapat penjelasan lengkap, saya pamit dan langsung menuju Gramedia Mal Panakkukang. Saya butuh referensi. Di toko buku itu, saya membeli 3 judul buku yang berkaitan dengan kajian sosiologi jalan raya, sejarah jalan raya pos Anyer-Panarukan yang dibangun Daendels, dan salah satu buku karya Ignasius Jonan.
Selang dua hari, saya dihubungi AKBP Pria Budi, menanyakan perkembangan visi misi Kapolda. Kepada beliau saya sampaikan, masih membaca buku-buku yang relevan. Saya masih mengkaji, belum merumuskannya dalam visi misi. Sekira empat hari, baru visi misi itu saya rampungkan, yang dikirim melalui e-mail.
Tak sampai sebulan, ada telepon masuk dari Polda. Kali ini, yang menghubungi saya Polwan, salah seorang Sespripim. Ketika bertemu kembali dengan Kapolda Pudji Hartanto, beliau menyampaikan terima kasih atas bantuan saya. Beliau bersyukur karena lulus dalam uji kepatutan dan kelayakan sebagai Dirjen Perhubungan Darat.
Beliau memperlihatkan aneka produk turunan dari visi misinya. Saya kagum dan tak menyangka, kalau beliau begitu kreatif. Visi misi itu diterjemahkan dalam bentuk stiker, brosur, notebook, pulpen, hiasan kulkas, dan pin yang bertuliskan “Insya Allah Bersama Kita BISA”. BISA ini singkatan dari briliant, inovative, speed, dan accountable. Cara ini membuat visi misinya lebih mudah tersosialisasikan.
Hari itu juga beliau memberikan honor kepada saya, yang sudah membantunya mengemas visi misinya sebagai calon Dirjen. Honor itu ditaruh dalam amplop khusus warna coklat silver dengan gambar 2 bintang di depannya. Amplop dari jenderal bintang 2 itu masih saya simpan sebagai kenang-kenangan.
Setelah urusan visi misi selesai, beliau melanjutkan dengan rencana pembuatan buku. Beliau sendiri yang memberi judul: “Kenapa Makassar?” Menurut beliau, buku ini perlu karena akan memberi gambaran mengapa berita tentang Makassar di stasiun televisi nasional lebih dominan tentang aksi-aksi demonstrasi, terutama dilakukan mahasiswa. Padahal, ada banyak aspek menarik dari daerah ini yang patut diangkat.
Ide beliau ini sejalan dengan apa yang selalu dilontarkan secara kritis oleh banyak orang di Makassar. Pemberitaan yang dominan meliput demonstrasi, bentrok, dan rusuh, hanya akan meninggalkan stigma dan tentu tidak menguntungkan Makassar dalam banyak aspek. Ketika saya masih di KPID Sulawesi Selatan, model liputan dan pemberitaan TV-TV Jakarta seperti itu selalu jadi sasaran kritik.
Menarik dari Irjen Pol Pudji Hartanto Iskandar, Kapolda Sulselbar yang menjabat sejak September 2015 sampai April 2016, karena beliau bukan saja seorang yang paham soal tugas dan fungsi kepolisian tapi juga menggunakan pendekatan marketing dalam membangun citra Polri. Konsep dan strategi programnya banyak bertalian dengan gagasan-gagasan Hermawan Kertajaya. Beruntung, saya sudah membaca buku-buku Seri 9 Elemen Marketing, antara lain yang membahas Positioning, Segmentation, Differentiation, Brand, dan Targeting.
Jadi boleh dikata, kami satu frekuensi yang ikut mempermudah pengerjaan bukunya. Itu mungkin karena S2 beliau adalah Magister Manajemen. Saya juga bisa masuk ke kerja-kerja kepolisian, terutama aspek penegakan hukumnya (fungsi represif) karena saya berlatar Sarjana Hukum. Sementara fungsi preemtif dan preventif, bisa saya pahami bermodalkan aktivitas saya di dunia LSM. Kalau terkait citra yang hendak diubah Kapolda, ya sangat berhubungan dengan pekerjaan saya dulu sebagai jurnalis dan broadcaster.












