Jika JK Menjadi Pemimpin Pemerintahan Sementara di Gaza

Pandangan ini misalnya dikemukakan oleh:
• Prof. Dr. Muhammad Al-Ghazali (Mesir) yang menyebut kebangkitan spiritual dan moral Islam bisa saja muncul dari wilayah yang dahulu tidak diperhitungkan — termasuk Asia Timur dan Tenggara.

• Dr. Raghib As-Sirjani menafsirkan bahwa “timur” bisa mencakup setiap wilayah di timur Hijaz yang menghidupkan kembali semangat Islam yang damai dan beradab.
Dalam konteks ini, bila muncul tokoh dari Indonesia atau kawasan timur dunia Islam yang membantu rekonstruksi Gaza atau memediasi perdamaian, maka itu bisa dilihat sebagai realisasi simbolik dari nubuwah Rasulullah ﷺ tentang peran timur dalam menegakkan kebenaran dan keadilan.

Secara simbolik, umat Islam dari Timur (termasuk Indonesia) dapat dimaknai sebagai bagian dari kebangkitan Islam yang membawa perdamaian, keadilan, dan kemanusiaan bagi Palestina

Gaza Baru, Dunia Baru

Jika JK menjadi pemimpin pemerintahan sementara di Gaza, maka Gaza tidak hanya akan bangkit secara fisik, tetapi juga secara moral dan spiritual. Ia akan meninggalkan warisan kepemimpinan yang menekankan nilai trust, peace, and dignity.

BACA JUGA:  Remaja Jadi Pembunuh, Bukti Kegagalan Negara

Dalam jangka waktu yang singkat, mungkin enam bulan hingga satu tahun, JK akan membentuk fondasi pemerintahan transisi yang kuat — bersih dari korupsi, transparan dalam anggaran, dan berorientasi pada kesejahteraan rakyat.

Setelah itu, ia akan menyerahkan kekuasaan kepada pemimpin lokal yang lahir dari rakyat Gaza sendiri. Ia akan pulang ke Makassar, bukan dengan kebanggaan politik, tetapi dengan ketenangan batin bahwa ia telah ikut menyalakan kembali lilin kecil di tengah kegelapan dunia.

Dan mungkin, suatu hari, seorang anak Gaza yang tumbuh dalam masa damai akan bertanya kepada ibunya, “Ibu, siapa orang yang dulu datang dan membuat Gaza tenang?”
Ibunya akan tersenyum dan berkata, “Dia orang dari negeri jauh, dari Indonesia. Namanya Jusuf Kalla. Dia datang bukan untuk memerintah, tapi untuk menyembuhkan.”

Dalam dunia yang penuh ego dan ambisi, sosok seperti JK akan menjadi bukti bahwa kekuatan sejati seorang pemimpin bukanlah di tangan yang menggenggam kekuasaan, tetapi di hati yang mampu menggenggam perdamaian.