-000-
Saya lalu menjadi host televisi, membangun lembaga survei, menulis kolom, bahkan merambah ke bisnis dan tambang. Namun akar saya tak berubah: aktivisme dan pemikiran.
Sementara Harwieb tetap teguh di jalur sunyi. Ia bekerja di Prisma, jurnal bergengsi yang menjadi pelabuhan para pemikir.
Ia tak tergoda dunia gemerlap. Ia memilih tetap berjalan kaki di lorong intelektual, walau kadang sepi dan dingin.
Tujuh tahun lalu, kami kembali duduk satu meja. Harwieb datang dengan proposal pengukuran hak asasi manusia. Ia ingin membuat Human Rights Index Indonesia.
“Gue eksekutor,” katanya sambil tersenyum. “Elo penyandang dana. Kita bentuk lembaga yang punya daya ukur etis terhadap negara.”
Penjelasannya seperti biasa: solid, sistematis, dan disertai paper ilmiah. Namun kesibukan memisahkan rencana itu. Dan waktu, seperti biasa, punya cara sendiri untuk menguji niat.
Pernah suatu malam di tahun 2017, Harwieb mengirim foto lewat pesan singkat. Rak buku tua di sudut kamarnya, disinari lampu meja yang redup.
Di antara tumpukan jurnal Prisma dan catatan tangan, tergeletak minuman yang sudah dingin.
“Den, lihat ini, “tulisnya. “Gue baru temukan catatan diskusi kita tahun 1990. Masih relevan: kecerdasan bukan untuk patuh, tapi untuk berani.”
Saya tak segera membalas. Tapi di kantornya yang sepi, ia sedang tersenyum.
Seperti biasa, Harwieb tak butuh tepuk tangan. Cukup secangkir minuman, kertas-kertas yang bernafas, dan keyakinan bahwa gagasan yang historis tak pernah kadaluarsa.
-000-
Seminggu yang lalu, sahabat kami, Nur Imam Subono (Boni), mengabarkan kabar yang lebih berat: Harwieb sakit keras.
Dan kemudian, pagi itu, Harwieb benar-benar pergi.
Kepergian Harwieb bukan sekadar kehilangan sahabat. Ia tipe manusia yang kini makin langka: mereka yang berpikir sambil bertindak, dan bertindak sambil berpikir.
Aktivis-pemikir. Pemikir-aktivis. Ia bukan hanya menulis tentang perubahan, tapi hidup di dalam perubahan itu.
Ia adalah contoh bahwa perlawanan tak selalu bersuara keras. Kadang ia berwujud kalimat panjang di jurnal ilmiah, atau kerutan di dahi yang sedang membaca ulang Karl Marx.
Di zaman ketika opini dipendekkan oleh algoritma, dan pemikiran dipatahkan oleh ketergesaan, sosok seperti Harwieb adalah pengingat bahwa kedalaman tetap penting. Bahwa pemikiran tak boleh kehilangan waktu untuk merenung.
-000-
Hari ini, saya ingin membuat janji kecil untuk sahabat saya itu.
“Harwieb, Index Hak Asasi yang kau gagas, akan kugali lagi. Akan kubangun ulang, sebagai peringatan bahwa engkau pernah hidup, dan pernah sangat berarti.”












