Buktinya, ada orang yang suka datang ke warkop yang itu-itu saja. Bila kita membuat janji bertemu dengannya, dia akan mengarahkan kita ke warkop tersebut. Padahal, di mata kita, warkop itu tak ada istimewanya.
Ada banyak variabel suatu warkop akan bertahan dengan pelanggan yang setia. Selain pelayanan (service), juga ada faktor harga (price), rasa (taste), dan tempat (place).
Pendekatan segmentation, targeting, dan positioning juga perlu diperhatikan di tengah menjamurnya warkop, kafe, dan coffe shop yang penuh persaingan. Bila sudah terbentuk komunitas di suatu warkop maka mereka yang datang, bukan lagi untuk minum kopi tetapi merayakan kebersamaan.
Nama “Nyeruput To Riolo” jelas menawarkan sesuatu yang berbeda. Diferensiasinya ada pada frasa berbahasa Makassar “to riolo”, berarti orang dulu. Ada nuansa tempo doeloe, jadul, dan lawas dalam warkop yang diusung.
Konsep nostalgia, menikmati warisan nenek, ditawarkan sebagai nilai jual. Itu yang tampak pada kopi atau kopi susu yang disajikan dalam canteng, dan teh rempah yang ditaruh pada teko tanah liat.
Strategi menyiasati bisnis warkop ala Om Harun lewat “Nyeruput To Riolo” ini akan diuji oleh waktu. Bila ia mampu merebut hati warga yang tinggal di kawasan perumahan sekitar situ, sudah merupakan suatu keberhasilan. Apalagi bila menjangkau pelanggan yang lebih luas, melalui penyelenggaraan event yang dirancang secara reguler.
Kehadiran “Nyeruput To Riolo” menambah daftar coffee shop di daerah ini. Tercatat di Makassar, yang dijuluki Kota Makan Enak ini, terdapat lebih 800an warkop/kafe berdasarkan data Bapenda Kota Makassar per 2023.
Sementara di Sulawesi Selatan, jumlahnya mencapai 9.848, yang menempatkan provinsi berada pada top 10 daerah dengan warkop/kafe terbanyak di Indonesia, menurut Point on Interest (POI), sebagaimana dikutip akun Instagram @goodstats.id.
Angka-angka ini tidak hanya dibaca secara statistik tetapi juga kultural. Budaya ngopi yang merata di semua lapisan masyarakat, tanpa kenal waktu dan tempat, adalah ceruk pasar yang tersedia sekaligus menantang.
Dan terlihat bahwa Om Harun begitu bersemangat menggarapnya. Dia punya sumberdaya untuk membesarkan “Nyeruput To Riolo” tak kalah hebat dibanding waralaba global yang ada.
Lewat jingle promo yang disebar untuk memperkenalkan warkopnya itu, ia menjanjikan harga yang ramah kantong, rasa yang hangat di tenggorokan, dan menyehatkan badan.
Namun dalam lagu yang diproduksi melalui Artificial Intelligence itu, terdapat lirik yang menggelitik: jangan ki camidu. Mereka–para pengunjung warkop–pasti tahu istilah ini. Camidu alias catat mi dulu hehehe. (*)












