Green Tea & Bunga Reportase Kehidupan “Tiga Rasa”

“Ada banyak cara untuk dekat kepada Allah. Entah memang dari awal di jalan yang lurus atau harus menjalani dulu yang namanya jalan ‘salah’. Bila sahabat dulu pernah merasakan yang namanya pacaran, dan sekarang lebih dekat kepada Allah, mungkin Allah sudah menakdirkan demikianlah jalan untuk bisa mencintai-Nya”.

Walaupun telah bekerja sebagai tenaga pendamping salah seorang anggota DPRD Sulsel, namun pria ini berkomitmen melanjutkan kerja-kerja sosialnya. Dia ingin mengonsentrasikan pikirannya pada lembaga-lembaga yang telah didirikannya agar lebih berkembang.

“Dan buat sahabat yang belum pernah merasakan yang namanya pacaran, tak perlu mencobanya. Carilah jalan yang terbaik untuk dekat pada-Nya. Ini hanya sebuah proses dari takdir yang sudah Allah gariskan untuk masing-masing hamba-Nya,” pesannya.

Hanya saja, sesuatu itu jika semakin dilarang, justru kian kuat orang hendak melakukannya. Sama halnya dengan dulu, ada buku yang dilarang oleh Kejaksaan Agung, selalu memicu para maniak buku (termasuk saya) mencari di toko buku dan bertanya sembunyi-sembunyi kepada pemilik toko buku.
***

Selama dua hari, Maman pernah mendapat 2 doa. Doa pertama, suatu hari, Maman berhasil menenangkan pertengkaran suami istri di pinggir jalan, di atas mobil, yang dikerumuni warga yang hanya menonton saja. Kebetulan dia lewat bersama seorang teman. Dia langsung turun dari mobil, lalu mendekat ke kerumunan warga. Akibat berhasil mendamaikan pasangan itu, dia dikira personel pembinaan masyarakat (Binmas).

BACA JUGA:  Amri Arsyid, Apakah Mungkin Menjadi Petani Kota?

Doa kedua, usai berurusan di gedung DPRD Sulsel, dia memesan dan dijemput pengemudi ojek online (ojol) di depan kantor wakil rakyat itu.

“Pak, sederhana sekali ‘ki’, Pak!,” tiba-tiba saja pengemudi ojol itu berkata begitu bertemu Maman.

“Sederhana apa, Pak?,” jawab Maman yang belum menangkap arah komentar pengemudi ojol yang membaca situasi nonverbal itu.

“Anggota Dewan,’ki’,?” sahut pengemudi ojol yang menyadarkan Maman.

“Aaamin…tapi yaa, Pak… aku bukan anggota Dewan,” tangkis Maman.

“Oh, aku kira anggota Dewan ‘ki’,” pengemudi pun menyadari dugaannya yang keliru.

Maman menjelaskan kepada pengemudi ojol kalau dirinya bukan anggota Dewan.

“Tapi Bunda (Sri Rahmi, dari Fraksi PKS) yang caleg, orangnya sederhana dan peduli. Kebetulan aku membawa kartu namanya. Kalau mau, aku kasih ‘ki’ kartu nama Bunda,” Maman menawarkan.

“Bisa, Pak….tidak terkena banjir rumah ‘ta’, Pak?,” kata tukang ojol sembari mengajukan pertanyaan.
Maman menjawab, tidak. Tapi di kelurahan tempat tinggalnya sebagian daerah terkena banjir sampai ada rumah yang hanyut.

BACA JUGA:  Nantikan ! IPMI & Fosait Bahas Perempuan yang Mengatupkan Resah di Bibirnya karya Mira Pasolong

Obrolan keduanya terus berlangsung hingga tidak terasa sepeda motor sudah sampai di tujuan Maman.
“Berapa, Pak?,” tanya Maman saat pantatnya meninggalkan sadel sepeda motor.
“20 ribu. Tetapi jangan mi kita bayar, Pak!,” kata pengemudi ojol membuat Maman terheran-heran.
“Kenapa,Pak?,” usutnya.

Pengemudi ojol itu menjelaskan, dia mengantar Maman ke lokasi pengungsi dengan tujuan akan membantu mereka.

“Aku belum bisa membantu apa-apa untuk saudara-saudara kita. Maka, itu yang bisa aku bantu dengan mengantar kita (Anda) ke lokasi ini,” jawab pengemudi ojol dengan polos dan penuh ikhlas.

“Terima kasih banyak, Pak. Subhanallah. Tidak semua orang seperti Bapak. Semoga Allah memudahkan segala urusan Bapak,” kata Maman menyikapi ketulusan hati pengemudi ojol tersebut.
Narasi kisah yang berjudul “Si Abang Ojol” (hlm143), satu dari 32 judul tema kepedulian, saya ubah agar sedikit naratif dan bersuasana. Tulisan ini adalah fenomena kehidupan yang setiap orang mengalaminya. Hanya saja perbedaannya, Maman dan juga saya menangkap momen seperti ini kemudian menuangkannya di dalam tulisan. Saya juga menjelaskan fenomena sosial kehidupan masyarakat saat seorang pemuda memungut sebuah tas kecil milik anak sekolah dasar yang jatuh di tengah lalu lintas padat Jl Perintis Kemerdekaan-Jl. Baru Dr.Leimena, 4 Januari 2025. Anak itu tampak sangat gelisah dengan kejadian itu, sementara sang ibu yang mengemudi sepeda motor terus mengegas kendaraannya.
Seorang pemuda berhati mulia kemudian sempat memungut tas kecil dan memberinya kepada si anak tersebut.