Fiam di mata Iwan Azis adalah sosok yang sombere. Dia rendah hati. Punya banyak kenalan public figure, mulai selebritas, sosialita, politisi, tokoh ternama, hingga pejabat tinggi.
“Saya terhubung dengan beliau karena satu organisasi di PARFI. Beliau di pusat saya di Sulsel,” tambah Iwan Azis.
Fiam eksis di organisasi perfilman dan kesenian. Nama Fiam dikenal di kalangan artis, Lingkungan pergaulannya Zaenal Bintang, Rahman Arge, Aspar Paturusi, dan lain-lain. Diakui, Fiam juga punya kemampuan menulis yang baik.
Fiam, lanjut Iwan Azis, mampu masuk dan ikut berkontribusi dalam organisasi-organisasi besar di Jakarta. Dia bahkan selalu ada di lingkaran dalam suatu organisasi. Misalnya di KKSS
“Ibarat pohon, dia ranting di antara batang-batang kayu pohon yang rimbun,” begitu Iwan Azis menggambarkan sahabatnya itu.
Lantaran faktor usia, Iwan Azis mengaku sudah jarang ke bioskop. Namun dia tetap mengikuti perkembangan film nasional. Sudah jadi habitusnya, sehingga segala yang berbau film selalu membuatnya antusias.
Luar biasanya, daya ingatnya masih kuat. Dia tak perlu menggunakan mesin pencari Google, kalau bicara tentang film-film bertema Sulawesi Selatan, dengan film maker yang kesohor di masanya.
Dia menyebut sejumlah film yang tenar dan sempat melambungkan aktor-aktor dan produser asal Makassar ke pentas nasional.
Film Di Ujung Badik (1971), katanya, diangkat dari tulisan karya Rahman Parenrengi, Wakil Pemimpin Redaksi Harian Tegas. Judul asli tulisannya berbahasa Makassar, yakni “Bombongna Biring Moncong”.
Rahman merupakan adik dari Ramiz Parenrengi, pernah Ketua PARFI Makassar.
Syuting film ini antara lain di Talasalapang, yang saat itu masih berupa hamparan sawah, dan masih masuk wilayah Kabupaten Gowa.
Film lain yang diceritakan, yakni Sanrego (1971). Ide cerita film ini dari Latief Makka, yang punya Restoran Pualam di Pantai Losari.
Film yang diperankan oleh WD Mochtar dan Rachmat Hidayat ini diproduksi oleh CV Alam Film Ujung Pandang. Sutradaranya Arifin C Noer.
Film yang diproduksi Latief Makka, ada beberapa, di antaranya, Direktris Muda dan Latando (Latando di Toraja). Film Direktris Muda pemerannya antara lain Emilia Contessa dan Erwin Kallo. Sementara film Latando disutradarai oleh Dolf Damora.
Kalau film Jangan Renggut Cintaku (1990), kata Iwan Azis, diangkat dari tulisan Rahman Arge berjudul “Langkah-Langkah Dalam Gerimis”. Berkat film ini Rahman Arge mendapat Piala Citra sebagai Pemeran Pembantu Pria Terbaik. Lokasi film antara lain di Bulukumba dan Pangkep.
Obrolan film bagai sekuel yang masih akan berlanjut, meski kami berpisah setelah menuntaskan kopi susu dan teh susu beruang sore itu. (*)












