Catatan Perjalanan Arwan D. Awing
OTW Pangkep
NusantaraInsight, Pangkep — Kerlingan mata Bang Maman di balik kacamata tebalnya ditambah senyuman tipis ala Ambon Manise mengisyaratkan agar kami segera bergegas menuju tujuan utama yaitu menyampaikan amanah para pengejar surga ke SDN 61 Terapung Pangkep.
“Ayo mi deh, om,” begitu gerak bibir dari Maman sembari menunjukkan jam.
Saya memantau situasi dan kondisi dan mencari celah yang tepat untuk memotong pembicaraan yang tengah berlangsung di warung kuliner khas Makassar itu.
Tapi sepertinya Prof Asdar, mahfum hal itu, karena jam terbang beliau yang tinggi, juga self-sensitivity-nya yang di atas rata-rata, kemudian beliau mengajak kami untuk beranjak menuju tujuan utama kami di Pangkep.
Pasukan dibagi dua, Rusdi Embas dan Ibu Wanti berpindah ke armada milik Prof Asdar, sedangkan ibu Heny tetap teguh di mobilnya.
Agar ibu Kepsek tidak gelisah menunggu, saya menge-chat beliau bahwa armada telah bergerak menuju lokasi. Saya kemudian mulai memeriksa google map yang ternyata telah lama dikirimkan ke gadget ku.
Memasuki perbatasan kabupaten Pangkep – Maros, saya mulai membuka map ke lokasi. Takutnya bukan karena “alamat palsu” namun terkadang alamat yang terkirim melalui google map “ngambek” dan kita menuju ke alamat palsu.
Tentu kita tak ingin mendengar nyanyian ibu Heny yang sedari tadi penasaran bersenandung “di mana…. di mana… di mana ?? Tentu tak menarik juga seperti Ayu Tinting.
Setelah memastikan google map baik-baik saja, saya menyampaikan ke sang pilot, “insyaallah, 3 km lagi,” sewaktu melintasi batas kabupaten.
“Sebentar kita putar balik (jalan 2 arah) lalu belok kiri,” ujarku meyakinkan bak navigator.
Setelah kami berbelok dan memasuki jalan Minasatene. Saya meminta agar kendaraan agar tidak laju, karena dari map menunjukkan kita akan berbelok ke kanan memasuki jalan kampung.
“Ini.. Bar (Akbar), kita belok kanan di jalan kecil,” ucapku mengarahkan.
Dua armada yang kebetulan berwarna putih senada kemudian memasuki jalan kampung yang sempit. Syukurnya, jalan yang dilalui cukup baik, sehingga kami menempuhnya cukup cepat.
Setelah melewati jalan kampung, kami mulai memasuki daerah persawahan dan juga empang. Di depan kami ada terowongan yang di atasnya merupakan perlintasan kereta api.
“Masya Allah, Tabarakallah, kerennya pemandangan,” ucap kami berbarengan melihat hamparan sawah yang baru ditanami dan juga empang yang airnya memantulkan cahaya beskara yang kekuningan. Di balik hamparan sawah dan empang berdiri dengan kokoh barisan bukit-bukit Karts yang seperti bidak-bidak catur yang sengaja diletakkan.












