Ekspedisi K-Apel di Pangkep “Mengandung Bawang” (1)

Catatan Perjalanan Arwan D. Awing.

NusantaraInsight, Pangkep — Arunika menghangatkan hari yang kemarin temaram. Tampaknya Sang Baskara memanggil untuk segera beranjak memanggul amanah dari tangan-tangan pemurah menuju SD Negeri 61 Terapung Pattallassang di Jalan Boddia Kelurahan Bontokio Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep.

Para pemburu kebaikan dengan renjana di dada telah menunggu dengan kereta besi menggenggam suatu misi Ekspedisi Berbagi Cinta Komunitas Anak Pelangi (K-Apel)

Mereka tidak sendiri, Rumah Zakat sehari sebelumnya telah menitipkan harapan dari para donatur untuk disampaikan kepada 39 anak dan 8 orang guru dan tenaga kependidikan di SDN 61 Terapung Pangkep sebagai penyanggah beban sementara yang seharusnya ditanggung oleh negara.

Kamis pagi, 18 Desember 2025, Rahman Rumaday, Rusdi Embas, Arwan D. Awing, Heny Suhaeni, Wanti Eldrin dan sang pilot Andi Akbar bergerak menuju Pangkep.

Sesekali ibu Heny owner Shean and Beauty mengangkat gadgetnya yang bermerek apel tergigit.

“Sudah jalan ma, Pak Prof,” ucap Heny sang ibu Persit ini.

“Jalan mi juga Pak Prof, ketemu di batas Makassar Maros maki,” infonya, walaupun suaranya tidak semerdu pramugari yang memberikan informasi.

BACA JUGA:  Yuk Kenalan dengan Muhammad Amri Arsyid

“Ada kartu tol ta,” ujar Akbar yang tiba-tiba sleding bertanya memecah canda tawa para penumpangnya.

“Ini, kartu Pers ku,” ujar Maman sembari memberikan kartu Pers yang tanggal 31 Desember 2025 nanti telah habis masa berlakunya.

“Luar biasa, kartu tol merangkap kartu pers,” puji Akbar yang mengambil kesempatan untuk dibuatkan kartu semacam itu.

Tak tinggal diam, Sang Owner juga nyeletuk, “saya juga kodong, bikin ka kartu pers seperti itu, Tetta (Rusdi Embas). Cita-cita ku itu jadi wartawan nah,” pintanya sedikit memelas kepada sosok yang dipanggil Tetta.

Tiba-tiba, Gadget Heny berdering lagi, dan sudah bisa ditebak itu pasti telepon dari Pak Prof yang menegaskan keberadaannya.

“Saya sudah di Daya,” begitu samar terdengar dari speaker handphone ibu Heny, padahal si putih dari Taeng (mobil ibu Heny) sudah berada di batas kota, walaupun kami melintas tanpa iringan lagu di Batas kota ini dari Tommy J Pisa.

“Arahkan mi Pak Prof langsung ke Warung Coto Rampa di Pantai Tak Berombak Maros,” kata ibu Wanti.

BACA JUGA:  Mahasiswa KKNT Unhas Buat Inovasi Sederhana untuk Pengelolaan Sampah Organik dan Konservasi Air di Desa Otting

“Ku tunggu maki Prof di Warung Coto Rampa,” ujar Ibu Heny.

“Nanti tiba, saya sharelok prof,” jawab ibu Heny di ujung telepon.

Makan Coto

Sampai di Warung Coto Rampa, kami langsung menuju meja panjang yang terpasang tulisan Reservasi. Dua orang yang tadinya makan di meja yang telah dibooking oleh ibu Wanti, tanpa diperintah berpindah ke meja lain, walaupun kita cukup merasa bersalah memutus sedikit mata rantai kenikmatan mereka makan Coto yang cukup populer di Butta Salewangan ini.