D’Baji Cafe Malino, Konflik Poso dan Ambon, Serta Artis Ibu Kota

Hanya berselang beberapa saat, petugas yang tadinya berteduh di bawah pohon, bergeser ke tempat kami. Mereka datang satu persatu.

Antrean pengunjung tak terhindarkan di hari pertama itu. Maklum, dadakan. Di ruang tamu yang disulap jadi tempat ngopi itu hanya ada 2 meja, yakni 1 untuk 6 kursi, dan 1 meja kecilnya lagi hanya untuk 4 kursi, plus sepasang kursi tamu.

Usai perjanjian perdamain Poso, kafe yang semula masih berupa warung kopi (warkop) dadakan, terus dibuka, berdampingan dengan Yantel Kukuh.

Kala itu, tamu yang datang cuma Sabtu-Minggu, dan tergantung pada tamu-tamu hotel serta rumah-rumah sewa yang berada di sekitar tempat kami.

Waktu berlalu, tak terasa masuk ke tahun 2002. Malino yang tenang, kembali ramai. Tempat yang berada di Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, ini lagi-lagi dijadikan tempat pertemuan untuk mendamaikan konflik sektarian yang terjadi di Ambon.

Pertemuan yang diadakan pada 13 Februari 2002 ini kemudian melahirkan Piagam Malino II.

Kedua peristiwa ini sangat mendasari pengembangan warung kopi menjadi kafe. Dengan konsep kafe, tentu menu yang disediakan lebih bervariasi.

BACA JUGA:  Komunikasi Publik, Modal Bagi Karier dan Kehidupan

Pengunjung datang bukan sekadar untuk makan dan minum, tapi juga kongkow-kongkow bersama sahabat. Kafe juga dilengkapi musik karaoke, dan bisa buat meeting untuk kapasitas 60-70 orang.

Waktu terus berjalan, pasca perjanjian Poso dan Ambon, ternyata berdampak positif terhadap arus kunjungan wisata ke Malino. Setiap Sabtu-Minggu, mereka yang datang berekreasi kian ramai, apalagi di awal bulan.

Maka pada tahun 2004, warung kopi ini dikembangkan. Dibangunlah rumah panggung berukuran 4×6 meter, di samping rumah induk. Bangunannya terbuat dari kayu dengan nuansa bambu, biar terasa alami.

Kenapa rumah panggung? Karena lantai bangunan rumah induk rata dengan jalan raya. Ketika masih berupa warkop, posisinya agak rendah sekira 2 meter dari jalan raya, sehingga agak sulit diakses.

Pada saat itu, banyak hal telah berubah. Kemajuan IT yang sedemikian pesat, secara otomatis berdampak pada usaha layanan telepon rumahan yang kami kelola. Telepon umum tidak lagi dibutuhkan. Setiap orang punya telepon genggamnya sendiri. Yantel Kukuh akhirnya kami tutup, warkop kami ubah menjadi kafe.

BACA JUGA:  Ini, dari Lakon ke Lakon (2): (Perjalanan R. Eko Wahono Bersama Teater Lho Indonesia)

Namanya: D’BAJI CAFE, diambil dari nama Sitti Sohorah Daeng Baji, yang merupakan nenek buyut Ibu Qashidah Ardan SH. Konon beliau bermigrasi dari Jeneponto ke Malino kira-kira tahun 1920an. Baji merupakan bahasa Makassar, artinya baik. Dipatenkan sebagai brand usaha menjadi D’Baji Cafe.

Tempat di mana D’Baji Cafe berdiri merupakan salah satu bangunan lama di Malino. Konstruksi bangunan ini belum menggunakan rangka besi, pada kolomnya hanya memakai batu gunung berlapis yang disusun diagonal, dengan ketebalan dinding 40-60 cm. Diperkirakan, dibangun pada awal tahun 1960an.

Rumah induk dari kafe ini, merupakan kediaman H Abd Rauf Daeng Nompo Karaeng Parigi, seorang tokoh pejuang, yang pernah mengemban amanah sebagai Camat Tinggimoncong, selama 32 tahun.

Hampir semua rumah yang dibangun di sini, pada awal Malino dibuka–mulai 1927 hingga 1960an–punya nama. Rumah yang menjadi tempat kafe ini, dahulu dikenal dengan nama Rampe ri Baji’. Makanya sekarang diberi nama D’Baji Cafe.

Nama-nama rumah pada kurun waktu itu, antara lain Balla ri Moncong, U’rangi Tongki , Reso resoku, Balla Caddia, Balla Tinggia, Lantang Cinikang, dan Balla Kalokko. Rumah-rumah tersebut, selain sebagai tempat tinggal, ada pula yang difungsikan sebagai villa yang disewakan pada Sabtu-Minggu atau waktu tertentu.

BACA JUGA:  Cerita di Balik Syuting Program Inspirasi Indonesia TVRI Pusat di Desa Paddinging, Kabupaten Takalar

Cerita ini menandakan bahwa Malino sejak dahulu sudah jadi tempat wisata yang menarik. Bahkan pada zaman kolonial Belanda, Malino yang dibangun oleh Gubernur Celebes, LJJ Caron, tahun 1927, sudah jadi tempat peristirahatan bagi kalangan pembesar Belanda, kala itu.