DARI ALIF WASHAL AKU BELAJAR

_By Rahman Rumaday_

NusantaraInsight, Makassar — _“Apa untungnya memilih tugas?”_*
Pertanyaan itu kembali menyapa, seperti suara pelan yang muncul bukan untuk dijawab cepat, melainkan direnungi perlahan.

Saya tersenyum kecil. Bukan karena menemukan jawaban yang mudah, tapi karena menyadari satu hal yakni tidak semua yang disebut *“untung”* benar-benar membawa kebaikan. Bahkan, kadang yang terlihat sebagai kehormatan justru menyimpan beban paling berat.

“Bagi saya,” batin ini menjawab jujur, “tidak ada untungnya. Bahkan bisa jadi rugi.”
Rugi jika tugas itu membuat hati lupa arah. Rugi jika amanah menjauhkan saya dari keikhlasan. Sebab pertanggungjawaban sejati tidak pernah berlangsung di hadapan manusia melainkan di hadapan Allah.

Dari sinilah, suara sejarah ikut berbicara. Umar bin Khattab seolah berbisik dari kejauhan waktu,

*_“Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab.”_*

Pesan itu selalu terasa seperti cermin. Ia memantulkan wajah kita yang sebenarnya tanpa sorot lampu, tanpa tepuk tangan.

Tepuk tangan… ah, betapa sering ia menipu.
*_”Jangan pernah berharap 1000 tepuk tangan untukmu, sangat berbahaya jika kamu tidak mendapatkan 1 tepuk tangan.” ~ Rahman Rumaday_*

BACA JUGA:  Trump vs Harvard dan Peluang Indonesia Sebagai Simpul Baru Peradaban Akademik

Pujian manusia cepat datang, cepat pula pergi. Wajah manusia tidak abadi. Ia berubah, berpaling, bahkan bisa melupakan dalam sekejap.
Namun wajah Allah itulah yang abadi.
*_Wajhu rabbika dzul jalali wal ikram._*

Mungkin karena itu saya mulai belajar memahami makna Alif Washal.

Alif Washal bukan sebatas huruf. Ia bukan pula hanya simbol linguistik dalam tata bahasa Arab. Ia adalah pelajaran hidup. Alif yang hadir di awal, tetapi tidak dibaca kecuali setelah yang lain. Ia memulai, namun tidak menuntut untuk disuarakan. Ia ada, tetapi tidak memamerkan diri.

Dari Alif Washal, saya belajar keberanian untuk memulai tanpa harus tampil. Belajar menyatukan arah tanpa merasa paling menentukan. Belajar rendah hati bahwa meski berada di awal barisan, tidak semua yang di awal harus disebut namanya.

Seperti itulah seharusnya niat. Lurus, menyatu, dan tenang.
Setiap gagasan besar seharusnya lahir dari kesadaran bahwa keberhasilan sejati bukan buah ego, melainkan hasil kolaborasi. Bukan siapa yang paling terlihat, tetapi siapa yang paling menjaga arah.

BACA JUGA:  PAK HARTO, PAHLAWAN NASIONAL DAN KISAH KACAMATA MERAH MUDA

Filosofi Alif Washal itu diam, tapi menentukan.
Ia menjadi ruh dalam setiap langkah perencanaan kami tidak gaduh, tidak sibuk menjelaskan diri, namun tahu ke mana hendak melangkah.

Maka saya pun sampai pada satu keyakinan sederhana yakni
Jika harus memilih, saya lebih memilih tidak mendapatkan tugas asal tetap berdampak.
Lebih memilih menjadi orang biasa yang bekerja dengan makna, daripada pemangku amanah yang kehilangan daya guna.